Paytren

paytren8.com

Kamis, 23 Desember 2010

Asuhan Keperawatan DHF


A.    Pengertian
Menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2001), demam berdarah dengue  ialah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbo virus) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Menurut hidayat (2006), demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh karena virus dengue yang termasuk golongan arbo virus  melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.                  

Menurut Ngastiyah (2005), demam  berdarah dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbo virus, ditularkan melalui gigitan nyamuk yang ditandai oleh demam mendadak tanpa sebab disertai gejala lain seperti lemah dan terdapat manifestasi perdarahan.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh  virus dengue (arbo virus),  masuk kedalam  tubuh manusia  melalui gigitan  nyamuk Aedes Aegypti yang ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan manifestasi perdarahan.


B.     Patofisiologi
Menurut Hidayat (2006), Suriadi dan Rita Yuliani (2001), virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, dan tubuh berespon terhadap infeksi virus yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, mual, pembesaran kelenjar getah bening. Reaksi yang amat berbeda akan tampak bila sesorang mendapat infeksi berulang oleh tipe virus dengue namun  dengan serotipe yang  berbeda. Adapun tipe serotipe dengue tersebut yaitu DEN-1, DEN-2, DE N-3 dan DEN-4  infeksi oleh salah satu jenis serotipe  tersebut akan memberikan kekebalan seumur hidup, tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain.

Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh kemudian akan bereaksi dengan  anti bodi dan terbentuk kompleks antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktifasi sistem komplemen. Akibat aktifasi C3 da n C5, akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas pembuluh darah sehingga terjadi kebocoran plasma. Selain itu, akibat dari infeksi virus dengue, terjadi depresi sum-sum tulang yang mengakibatkan turunnya trombosit, hemoglobin, leukosit. Terjadinya trombositopenia merupakan faktor terjadinya perdarahan.

Adapun manifestasi dari perdarahan tersebut yaitu berupa petekhie, ekimosis, episteksis, perdarahan gusi sampai perdarahan yang hebat  berupa muntah darah akibat perdarahan lambung, melena dan juga hematuriamasif. Selain perdarahan juga terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi makin lemah, ujung-ujung jari, telinga dan hidung terasa dingin dan lembab. Denyut  nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg  atau kurang. Jika keadaan tersebut tidak teratasi dengan baik dapat menyebabkan anoksia jaringan, asidosis metabolik, syok hipovolemik Dengue Syok Syndrome (DSS) dan kematian.

Menurut WHO,  Demam berdarah dengue dikelompokkan menjadi 4 tingkatan sebagai  berikut :
1.      Derajat I :  demam disertai gejala tidak khas, hanya terdapat manifestsi perdarahan (uji turniquet positif).
2.      Derajat II : seperti derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan        diperdarahan lain.
3.      Derajat III : ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya  nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (kurang dari 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang dingin dan lembab, gelisah.
4.      Derajat IV : renjatan berat dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah yang      tidak dapat diukur.

C.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaan  menurut Ngastiyah (2005), Suriadi dan Rita Yuliani (2001)
1.      Penatalaksanaan medik
Pada dasarnya pengobatan pasien bemam berdarah dengue bersifat simtomatis. Adapun penatalaksanaan tersebut meliputi :
a.       Pemberian anti-piretik pada keadaan hiper pireksia 
b.      Pemberian luminal jika terjadi kejang-kejang  
c.       Pemberian cairan intravena
d.      Pemeriksaan hematokrit, hemo globin dan trombosit setiap hari
e.       Pemberian transfusi darah atau trombosit pada perdarahan gastro intestinal          yang hebat.
2.      Penatalaksanaan Keperawatan
a.       Tirah baring
b.      Diet makanan lunak
c.       Memberikan minum yang banyak, dianjurkan 1,5-2 liter dalam 24 jam
d.      Pemantauan tanda-tanda vital
e.       Pemantauan intake dan output cairan
f.       Pemantauan perdarahan

D.    Konsep Tumbuh Kembang, Bermain, Nutrisi dan Dampak Hospitalisasi pada anak yang berumur 3-6 tahun.
Dibawah ini akan diuraikan mengenai konsep tumbuh kembang, bermain, nutrisi dan dampak hospitalisasi pada anak yang berumur 3-6 tahun.

1.      Pertumbuhan.
Menurut Whalley dan Wong (2000), mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, hal ini merupakan suatu proses yang alamiah yang terjadi pada setiap individu. Sedangkan Marlow (1998) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan. Pada anak usia 3-6 tahun pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata per tahunnya adalah 2 Kg, kelihatan kurus akan tetapi aktifitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh mencapai kematangan seperti berjalan, melompat, dan lain-lain.            Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75 sampai 7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2006).


2.      Perkembangan
Perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks yang melalui maturasi dan pembelajaran. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak diantaranya faktor herediter, faktor lingkungan, dan faktor internal. Perkembangan psikoseksual anak pada fase falik (3-6 tahun), genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin, seringkali anak merasa penasaran dengan pertanyaan yang diajukannya.              Dengan perbedaan ini anak sering meniru ibu atau bapaknya untuk memahami identitas gender (Freud). Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan. Proses eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan dan anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah yang terlihat sekali kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang tuanya              (Hidayat, 2006).

3.      Nutrisi
Nutrisi sangat penting untuk tumbuh dan berkembang. Anak membutuhkan zat gizi yang esensial mencakup protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air yang harus dikonsumsi secara seimbang, dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pada tahapan usianya. Kebutuhan cairan pada anak usia 3-6 tahun  yaitu 1600-1800cc/24 jam (Hidayat, 2006). Kebutuhan kalorinya adalah 85 kkal/kg BB. Pada masa prasekolah kemampuan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi sudah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan makanan seperti garpu, piring, sendok dan gelas semuanya harus dijelaskan pada anak atau diperkenalkan dan dilatih dalam penggunaannya, sehingga dapat mengikuti aturan yang ada. Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia ini sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah kebosanan, berikan susu dan makanan yang dianjurkan antara lain daging, sup, sayuran dan buah-buahan.

4.      Bermain
Bermain merupakan suatu aktifitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa. Pada usia 3-6 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreatifitas dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangakan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dalam mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong. Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda-benda sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat-alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting dan air.

5.      Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan suatu poroses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya sampai kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stres. Perawatan anak dirumah sakit memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakan amat, penuh kasih sayang, dan menanyakan, yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Perawatan dirumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya, anak merasa kehilangan kekuatan diri, malu, bersalah, atau takut.anak akan bereaksi agresif dengan marah dan berontak, tidak mau bekerjasama dengan perawat.

E.     Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada klien dengan DHF menurut Christantie (1995) adalah sebagai berikut :
1.      Data subyektif ; data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan yang dinyatakan  klien : menyatakan adanya lemah, panas atau demam, sakit kepala, mual, anoreksia, haus, sakit saat menelan, nyeri ulu hati, nyeri pada otot dan sendi.
2.      Data obyektif ; data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi klien. Pada klien didapt suhu badan tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan, mukosa mulut kering, perdarahan gusi, tampak bintik merah pada kulit (ptekhie), uji tornikuet positif, epistaksis, hematemesis, melena, nyeri tekan pada epigastrik. Pada palpasi terdapat pembesaran hati dan limpa, pada renjatan (derajat IV) terdapat nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin, gelisah, sianosis perifer, pernafasan dangkal.
3.      Pemeriksaan diagnostik
a.       Hb dan Ht meningkat
b.      Trombositopenia <100.00/uL
c.       Leukopenia (mungkin normal/leukositosis)
d.      Ig.6 positif
e.       Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hipouremia dan hiponatremia
f.       Ureum dan pH darah mungkin meningkat
g.      Analisa gas darah ; asidosis metabolik, PC02 <35-40mmHg dan HCO3 rendh.
h.      SGOT dan SGPT mungkin meningkat
i.        Rongent thorax : effusi pleura
j.        Serologi : uji HI (Hemoglutination Inhibitioan Test)
k.      USG : hepatomegali dan splenomegali

F.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang muncul pada klien dengan DHF menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2001), Hidayat (2006) :
1.      Hipertermia berhubungan dengan infeksi virus.
2.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan demam.
3.      Risiko terjadi komplikasi (syok hipovolemik atau perdarahan).
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak nafsu makan.
5.      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.
6.      Kurang pengetahuan pada orang tua mengenai proses penyakit.

G.    Perencanaan
Perencanaan pada klien dengan DHF menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2001),       Hidayat (2006), Ngastiah (2005) adalah sebagai berikut:

1.      Hipertermia berhubungan dengan infeksi virus.
Tujuan: Mempertahankan suhu tubuh normal
Kriteria hasil: Anak menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal
Rencana tindakan: a. Monitor peribahan suhu tubuh, nadi, pernapasan serta tekanan darah. b. Gunakan pakaian yang tipis untuk membantu penguapan. c. Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan ketentuan. d. Libatkan keluarga dan ajarilah cara melakukan kompres yang benar serta evaluasi perubahan suhu.

2.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan demam.
Tujuan: Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan.
Kriteria hasil: Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan cairan.
Rencana tindakan: a. Mengobservasi tanda-tanda vital paling sedikit tiap empat jam. b. Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis,         ubun-ubun cekung, produksi urine menurun. c. Mengobservasi dan mencatat intake             dan output. d. Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan             tubuh.  e. Memonitor nilai laboratorium: elektrolit darah, BJ urine, serum albumin.                   f. Mempertahankan intake dan output yang adekuat. g. Memonitor dan mencatat berat badan. h. Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam. i. Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (insensible water loss/IWL)

3.      Risiko terjadi komplikasi (syok hipovolemik atau perdarahan).
Tujuan: Mencegah terjadinya perdarahan.
Kriteria hasil: Peningkatan trombosit, tidak terjadi perdarahan terutama saluran cerna.
Rencana tindakan: a. Monitor penurunan jumlah trombosit, hemoglobin, dan hematokrit. b. Anjurkan anak untuk istirahat c. Gunakan sikat gig lunak, pelihara kebersihan mulut. d. Monitor tanda-tanda adanya perdarahan e. Apabila terjadi perdarahan, kolaborasi dalam pemberian obat dan transfusi. f. Berikan antibiotik sesuai dengan keperluan. g. Pertahankan kebutuhan cairan tubuh.

4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak nafsu makan.
Tujuan: kebutuhan nutrisi adekuat.
Kriteria hasil: Anak menunjukkan tanda-tanda nutrisi yang adekuat.
Rencana tindakan: a. Monitor adanya perubahan berat badan, mual, muntah.                   b. Berikan makanan yang mudah dicerna seperti bubur dan hidangkan dalam keadaan hangat. c. Berikan porsi makan sedikit tapi sering hingga terpenuhi jumlah asupan makanan dalam tubuh. d. Berikan obat antiemesis sesuai dengan program/ketentuan bila perlu.  e. Berikan alternatif nutrisi yang dapat meningkatkan kadar trombosit

5.      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.
Tujuan: Support koping keluarga adaptif.
Kriteria hasil: keluarga menunjukkan koping yang adaptif.
Rencana tindakan: a. Mengkaji perasaan dan persepsi orang tuaterhadap situasi yang penuh stres. b. Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang-lebar dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga. c. Identifikasi koping yang biasa digiunakandan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan. d. Tanyakan kepada keluarga apa yang dapat dilakukan untuk membuat anak atau keluarga agar menjadi lebih baik, dan jika memungkinkan memberikan apa yang diminta oleh keluarga e. Memenuhi kebutuhan dasar anak : jika anak sangat tergantung dalam melakukan aktifitas sehari-hari, ijinkan hal ini terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama, kemandirian anak dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
6.      Kurang pengetahuan pada orang tua mengenai proses penyakit
Tujuan: Pengetahuan meningkat.
Kriteria hasil: Meningkatnya pengetahuan pada pasien atau keluarga tentang DBD
Rencana tindakan: Berikan penjelasan tentang penyakit DBD yang biasaya mulai dari demam mendadak dan anak menjadi lemah, mengeluh pusing atau muntah agar segera dibawa berobat ke pelayanan kesehatan/dokter tidak usah menunggu terlihatnya bintik-bintik merah pada kulit (mengenai bintik merah sebagai salah satu gejala DBD sudah banyak yang mengetahiu; karena itu sering para orang tua jika anaknya terlihat ada merah-merah pada kulitnya ketakutan menderita DBD. Padahal merah pada kulit tersebut dapat juga sebagai akibat anak telah beberapa hari tidak dimandikan). Penjelasan lain yang penting ialah jika anak yang sakit demam sebelum dibawa berobat supaya diberi banya minum. Untuk mencegah timbulnya muntah cara memberikan minum harus sedikit demi sedikit.

H.    Pelaksanaan
Pelaksanaan menurut Patricia A. Potter (2005) merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan yang telah disusun/ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal, dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh pasien itu sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat memilih intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada pasien. Berikut ini metode dan langkah persiapan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat : memahami rencana keperawatan yang telah ditentukan, menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan, menyiapkan lingkungan terapeutik, membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, memberikan asuhan keperawatan langsung, mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.
Pelaksanaan membutuhkan perawat untuk mengkaji kembali keadaan klien, menelaah, dan memodifikasi rencana keperawatan yang sudah ada, mengidentifikasi area dimana bantuan dibutuhkan untuk mengimplementasikan, mengkomunikasikan intervensi keperawatan. Pelaksanaan dari asuhan keperawatan juga membutuhkan pengetahuan tambahan ketrampilan dan personal. Setelah pelaksanaan tindakan, perawat menuliskan dalam catatan klien deskripsi singkat dari pengkajian keperawatan, prosedur spesifik dan respon klien terhadap asuhan keperawatan atau juga perawat bisa mendelegasikan implementasi pada tenaga kesehatan lain termasuk memastikan bahwa orang yang   didelegasikan   terampil   dalam tugas  dan  dapat menjelaskan tugas sesuai dengan standar keperawatan.

I.       Evaluasi
Menurut Patricia A. Potter (2005) evaluasi merupakan proses yang dilakukan untuk menilai pencapaian tujuan atau menilai respon klien terhadap tindakan keperawatan seberapa jauh tujuan keperawatan telah terpenuhi. Pada umumnya evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif. Dalam evalusi kuantitatif yang dinilai adalah kuatitas atau jumlah kegiatan keperawatan yang telah ditentukan sedangkan evaluasi kualitatif difokuskan pada masalah satu dari tiga dimensi striktur atau sumber, dimensi proses dan dimensi hasil tindakan yang dilakukan.

Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan adalah sebagai berikut :  mengumpilkan data keperawatan pasien, menafsirkan (menginterpretasikan) perkembangan pasien, membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar