Kamis, 23 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Asma Bronkial

 

A.      Konsep Dasar Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan

Sistem pernafasan terdiri dari komponen berupa saluran pernafasan yang dimulai dari hidung, pharing, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus. Saluran pernafasan bagian atas dimulai dari hidung sampai trakea dan bagian bawah dari bronkus sampai alveolus.
Fungsi utama sistem pernafasan adalah menyediakan oksigen untuk metabolisme jaringan tubuh dan mengeluarkan karbondioksida sebagai sisa metabolisme jaringan. Sedangkan fungsi tambahan sistem pernafasan adalah mempertahankan keseimbangan asam basa dalam tubuh, menghasilkan suara, memfasilitasi rasa kecap, mempertahankan kadar cairan dalam tubuh serta mempertahankan keseimbangan panas tubuh.
Tercapainya fungsi utama pernafasan didasarkan pada empat proses yaitu: ventilasi (keluar masuknya udara pernafasan), difusi (pertukaran gas di paru-paru), transportasi (pengangkutan gas melalui sirkulasi) dan perfusi (pertukaran gas di jaringan).
Adapun kondisi yang mendukung dari proses pernafasan adalah tekanan oksigen atau udara atmosfer harus cukup, kondisi jalan nafas dalam keadaan normal, kondisi otot pernafasan dan tulang iga harus baik, ekspansi dan rekoil paru, fungsi sirkulasi (jantung), kondisi pusat pernafasan dan hemoglobin sebagai pengikat oksigen.
Berikut ini dijelaskan lebih rinci mengenai anatomi dan fisiologi dari organ-organ pernafasan
1.      Hidung, merupakan saluran pernafasan teratas. Ditempat ini udara pernafasan mengalami proses yaitu penyaringan (filtrasi), penghangatan dan pelembaban (humidifikasi). Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel thoraks bertingkat, bersilia dan bersel goblet. Bagian belakang hidung berhubungan dengan pharing disebut nasopharing.
2.      Pharing, berada di belakang mulut dan rongga nasal. Dibagi dalam tiga bagian yaitu nasopharing, oropharing, dan laringopharing. Pharing merupakan saluran penghubung antara saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Bila makanan masuk melalui oropharing, epiglotis akan menutup secara otomatis sehingga aspirasi tidak terjadi.
3.      Laring, berada di atas trakea di bawah pharing. Sering kali disebut sebagai kotak suara karena udara yang melewati daerah itu akan membentuk bunyi. Laring ditunjang oleh tulang-tulang rawan, diantaranya yang terpenting adalah tulang rawan tiroid (Adam Apple) yang khas pada pria, namun kurang jelas pada wanita. Di bawahnya terdapat tulang rawan krikoid yang berhubungan dengan trakea.
4.      Trakea, terletak di bagian depan esophagus, dan mulai bagian bawah krikoid kartilago laring dan berakhir setinggi vertebra torakal 4 atau 5. Trakea bercabang menjadi bronkus kanan dan kiri. Tempat percabangannya disebut karina yang terdiri dari 6 – 10 cincin kartilago.
5.      Bronkus, dimulai dari karina, dilapisi oleh silia yang berfungsi menangkap partikel-partikel dan mendorong sekret ke atas untuk selanjutnya dikeluarkan melalui batuk atau ditelan. Bronkus kanan lebih gemuk dan pendek serta lebih vertikal dibanding dengan bronkus kiri.
6.      Bronkiolus, merupakan cabang dari bronkus yang dibagi ke dalam saluran-saluran kecil yaitu bronkiolus terminal dan bronkiolus respirasi. Keduanya berdiameter ≤ 1 mm. Bronkiolus terminalis dilapisi silia dan tidak terjadi difusi di tempat ini. Sebagian kecil hanya terjadi pada bronkiolus respirasi.
7.      Alveolus
Duktus alveolus menyerupai buah anggur dan merupakan cabang dari bronkiolus respirasi. Sakus alveolus mengandung alveolus yang merupakan unit fungsional paru sebagai tempat pertukaran gas. Diperkirakan paru-paru mengandung ± 300 juta alveolus (luas permukaan ± 100 m2) yang dikelilingi oleh kapiler darah.
Dinding alveolus menghasilkan surfaktan (terbuat dari lesitin) sejenis fosfolipid yang sangat penting dalam mempertahankan ekspansi dan rekoil paru. Surfaktan ini berfungsi menurunkan ketegangan permukaan dinding alveoli. Tanpa surfaktan yang adekuat maka alveolus akan mengalami kolaps.
8.      Paru-paru
Paru merupakan jaringan elastis yang dibungkus (dilapisi) oleh pleura. Pleura terdiri dari pleura viseral yang langsung membungkus/ melapisi paru dan pleura parietal pada bagian luarnya. Pleura menghasilkan cairan jernih (serosa) yang berfungsi sebagai lubrikasi. Banyaknya cairan ini lebih kurang 10 – 15 cc. Lubrikasi dimaksudkan untuk mencegah iritasi selama respirasi. Peredaran darah ke paru-paru melalui dua pembuluh darah yaitu : arteri pulmonalis dan arteri bronkialis.
(Pearce Evelyn C, 2000; 211)

B.       Konsep Dasar Asma Bronkial

1.      Definisi
Asma Bronchial adalah penyakit saluran nafas yang dapat pulih yang terjadi karena spasme bronkus disebabkan oleh berbagai sebab misalnya allergen, infeksi dan latihan. (Hudak & Gallo, 1997; 225)
Asma Bronkial adalah inflamasi dari plasma akut dari otot halus pada bronkus dan bronkiolus dengan peningkatan produksi dan pelengketan mukus. (Susan Martin Tucker,et.al, 1998; 2215)
Asma Bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan (Soeparman, Sarwono Waspadji, 1999; 71)
Asma Bronkial adalah suatu penyakit yang dikarakteristikkan oleh konstriksi yang dapat pulih dari otot halus bronkial, hipersekresi mukosa, dan inflamasi mukosa serta edema. Faktor pencetus termasuk alergen, masalah emosi, cuaca dingin, latihan, obat, kimia, dan infeksi. (Marilynn E. Doenges, 1999; 152)
Asma Bronkial adalah penyakit jalan nafas obstruksi intermitten, reversibel dimana trakea dan bronki berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu yang dimanifestasikan dengan penyempitan jalan nafas yang mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi. (Brunner and Suddarth, 2001; 593)
Asma Bronkial adalah penyakit kronik sistem pernafasan dengan ciri serangan berulang kesulitan dalam bernafas, wheezing, dan batuk. Selama serangan saluran bronkus kejang, menjadi lebih sempit dan kurang mampu untuk menggerakkan udara ke paru-paru. Bermacam-macam benda yang dapat mengakibatkan alergi seperti bulu binatang, debu, polusi atau makanan tertentu dapat memicu serangan. (Health Dictionary, 2007).
Asma Bronkial adalah penyakit kronis dengan serangan nafas pendek, wheezing dan batuk dari konstriksi dan membran mukosa yang bengkak di dalam bronkus (jalan nafas dalam paru-paru). Hal ini terutama disebabkan oleh alergi atau infeksi saluran pernafasan. Kedua asap rokok dapat mengakibatkan asma pada anak. (Britannica Concise Encyclopedia, 2007).
Asma Bronkial adalah gangguan pernafasan ditandai dengan serangan berulang kesulitan bernafas terutama saat menghembuskan nafas oleh karena peningkatan ketahanan aliran udara melalui pernafasan bronkeolus. (Sports Science and Medicine, 2007).
Asma Bronkial adalah penyakit kronis system pernafasan di tandai dengan serangan berkala dari wheezing, nafas pendek dan rasa sesak di dada. (Columbia Encyclopedia, 2007).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Asma Bronchial adalah penyempitan sebagian dari otot halus pada bronkus dan bronkiolus yang bersifat reversibel dan disebabkan oleh berbagai penyebab seperti alergen, infeksi dan latihan.

2.      Etiologi
Faktor-faktor penyebab dan pemicu asma antara lain debu rumah dengan tungaunya, bulu binatang, asap rokok, asap obat nyamuk, dan lain-lain. Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut, buah-buahan, kacang juga dianggap berperanan penyebab asma. Polusi lingkungan berupa peningkatan penetrasi ozone, sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksid (NOX), partikel buangan diesel, partikel asal polusi (PM10) dihasilkan oleh industri dan kendaraan bermotor. Makanan produk industri dengan pewarna buatan (misalnya tartazine), pengawet (metabisulfit), dan vetsin (monosodium glutamat-MSG) juga bisa memicu asma. Kondisi lain yang dapat memicu timbulnya asma adalah aktifitas, penyakit infeksi, emosi atau stres. (Pdpersi, 2007)

3.      Patofisiologi
Pada penyakit asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan misalnya stres, udara dingin, latihan dan faktor-faktor lain. Serangan asma merupakan akibat adanya reaksi antigen antibodi yang menyebabkan dilepaskannya mediator-mediator kimia. Antibodi yang dihasilkan (IgE) menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi yang menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (mediator) seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaksis dan substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas yang menyebabkan tiga reaksi utama yaitu:
a.       Konstriksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar maupun saluran nafas yang kecil yang menimbulkan bronkospasme.
b.      Peningkatan permeabilitas kapiler yang berperan dalam terjadinya edema mukosa yang menambah sempitnya saluran nafas lebih lanjut.
c.       Peningkatan sekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mukus.
 

4.      Klasifikasi
Jenis-jenis asma terdiri atas 3 macam, yaitu :
a.       Asma Alergik / Ekstrinsik
Asma ini disebabkan oleh alergen (misal : serbuk sari, binatang, amarah, makanan dan jamur), kebanyakan alergen terdapat di udara dan musiman.
Pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat keluarga yang alergik dan riwayat medis masa lalu ekzema atau rhinitis alergik.
b.      Asma Idiopatik / Non alergik
Asma ini tidak berhubungan dengan alergi spesifik. Serangan asma ini dicetuskan oleh beberapa faktor common cold, infeksi traktus, respiratorius, latihan, emosi. Beberapa agen farmakologi seperti aspirin dan agen anti inflamasi non steroid lain, pewarna rambut, antagonis beta–adrenergik dan agen sulfit (pengawet makanan) juga mungkin menjadi faktor.
Serangan asma idiopatik/ non alergik menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlakunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkitis akut dan emfisema.
c.       Asma Gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dan bentuk alergi maupun bentuk idiopatik atau non alergik. (Brunner and Suddarth, 2001; 534)

5.      Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang muncul pada asma, antara lain :
a.       Sukar bernafas yang timbul intermitten.
b.      Terdengar “wheezing” pada waktu ekspirasi.
c.   Batuk dengan sputum yang kental.
d.      Ekspirasi memanjang dengan hiperinflasi nada.
e.       Pernafasan cuping hidung.
f.       Sianosis pada permukaan kuku.
(Susan Martin Tucker, et.al, 1998; 2257)

6.      Komplikasi
Adapun komplikasi yang mungkin terjadi pada penyakit asma yaitu :
a.       Atelektasis.
b.      Emfisema dengan hiperinflasi kronis.
c.       Pneumothoraks.
d.      Gagal pernafasan yang memerlukan bantuan mekanis.
e.       Bronkhitis.
f.       Aspergilosis bronkopulmoner alergik.
g.      Fraktur iga.
(Soeparman, dkk, 1999; 34)

7.      Pemeriksaan Diagnosis
a.       Pemeriksaan laboratorium
1)      Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
-          Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil.
-          Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
-          Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
-          Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
2)      Pemeriksaan darah
-          Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
-          Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
-          Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
Pencetusnya allergen, olahraga, cuaca, emosi (imun respon menjadi aktif, Pelepasan mediator humoral), histamine, SRS-A, serotonin, kinin, bronkospasme, Edema mukosa, sekresi meningkat, inflamasi (penghambat kortikosteroid)
-          Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.
b.      Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
1)      Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
2)      Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.
3)      Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat pada paru
4)      Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
5)      Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
c.       Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
d.      Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :
1)      Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation.
2)      Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch block).
3)      Tanda-tanda hipoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.
e.       Scanning paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
f.       Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.
(Dudut Tanjung., Skp, 2007)

8.      Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
a.       Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera.
b.      Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
c.       Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnya.
Pengobatan pada asma bronkial terbagi 2, yaitu:
a.       Pengobatan non farmakologik:
-          Memberikan penyuluhan.
-          Menghindari faktor pencetus.
-          Pemberian cairan.
-          Fisiotherapy.
-          Beri O2 bila perlu.
b.      Pengobatan farmakologik :
1)      Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan :
a)    Simpatomimetik/ adrenergik (Adrenalin dan efedrin)
Nama obat :
- Orsiprenalin (Alupent)
- Fenoterol (berotec)
- Terbutalin (bricasma)
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serta Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus) untuk selanjutnya dihirup.
2)      Santin (teofilin)
Nama obat :
- Aminofilin (Amicam supp)
- Aminofilin (Euphilin Retard)
- Teofilin (Amilex)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.
Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk suppositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
3)      Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anak-anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
4)      Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral.
(Dudut Tanjung., Skp, 2007)

C.       Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Asma Bronkial

Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, tehnik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/ keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Nursalam, 2001; 2).
Proses keperawatan adalah satu pendekatan untuk pemecahan masalah yang memungkinkan seorang perawat untuk mengorganisir dan memberikan asuhan keperawatan. Proses keperawatan merupakan suatu elemen dari pemikiran Kritis yang memperbolehkan perawat untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan yang didasarkan atas pertimbangan. Suatu proses adalah satu rangkaian dari langkah-langkah atau komponen-komponen petunjuk / penentu untuk mencapai tujuan. Tiga karakteristik dari suatu proses adalah Purpose, Organization dan Creativity ( Bevis,1978). “Purpose” adalah tujuan atau maksud yang spesifik dari proses. Proses keperawatan digunakan untuk mendiagnosa dan merawat respon manusia pada kondisi sehat dan sakit. (American Nurses Association,1980). “Organization” adalah tahapan atau langkah-langkah atau komponen-komponen yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Proses keperawatan mengandung 5 langkah : Pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. “Creativity” adalah pengembangan lanjut dari proses itu. Proses keperawatan dinamis dan berlanjut terus menerus. ( Potter Perry, 1997 : 103 )
Asuhan Keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitatif dan preventif perawatan kesehatan. Untuk sampai pada hal ini, profesi keperawatan telah mengidentifikasikan proses pemecahan masalah yang menggabungkan elemen yang paling diinginkan dari seni keperawatan dengan elemen yang paling relevan dari sistem teori, dengan menggunakan metode ilmiah.
(Doenges, 1999 ; dikutip dari Shore,1998).
Dalam melakukan asuhan keperawatan terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh.  Adapun langkah tersebut adalah sebagai berikut :

1.    Pengkajian

Merupakan tahapan awal dari proses keperawatan yang merupakan dasar dari kegiatan selanjutnya, yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan sistematis dalam mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui kebutuhan klien sesuai dengan masalah yang ada.
Tahap pengkajian adalah pengumpulan data yang diperoleh dengan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang serta mempelajari cacatan lain tentang status kesehatan klien.
Dalam tahap ini akan dikumpulkan identitas klien, riwayat kesehatan, riwayat kesehatan keluarga, riwayat psikososial, pola-pola fungsi kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Riwayat kesehatan meliputi riwayat penyakit dahulu yang terdiri dari riwayat masuk rumah sakit, penyakit yang diderita, riwayat alergi dan obat-obatan yang sering digunakan. Riwayat penyakit sekarang meliputi keluhan utama dari klien seperti sesak, batuk, demam, nyeri abdomen, berkeringat serta sejak kapan gejala-gejala tersebut timbul.
Riwayat keluarga meliputi penyakit yang pernah diderita anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan kondisi klien, riwayat penyakit keturunan seperti asma, DM, penyakit jantung dan genogram keluarga klien.
Riwayat psikososial menyatakan tingkat perasaan/ emosi klien dan keberadaan klien dalam keluarga.
Pada pola-pola fungsi kesehatan meliputi keadaan nutrisi seperti adanya alergi terhadap makanan, berat badan tidak sesuai dengan tinggi badan, apakah ada muntah, mual dan nyeri abdomen. Pola eliminasi seperti kesulitan miksi dan frekuensinya. Pola tidur yang meliputi lamanya tidur, apakah susah tidur akibat sesak. Pola aktifitas seperti sesak waktu beraktifitas.
Data dasar yang biasanya didapat pada pasien asma bronkial adalah :
a.       Aktivitas/ Istirahat
Gejala    :   Keletihan, kelelahan, malaise
Ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas sehari-hari karena sulit bernafas.
Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi.
Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktifitas atau latihan.
Tanda    :   Keletihan
Gelisah, insomnia
Kelemahan umum / kehilangan massa otot.
b.      Sirkulasi
Gejala    :   Pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda    :   Peningkatan TD, peningkatan frekuensi jantung/ takikardia berat, distrimia, distensi vena leher (penyakit berat).
Edema dependen, bunyi jantung redup.
Warna kulit/membran mukosa : normal atau abu-abu/ sianosis, kuku tabuh dan sianosis perifer.
Pucat dapat menunjukkan anemia.
c.       Integritas Ego
Gejala    :   Peningkatan faktor resiko, perubahan pola hidup
Tanda    :   Ansietas, ketakutan, peka rangsang
d.      Makanan / Cairan
Gejala    :   Mual / Muntah
Nafsu makan buruk
Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernafasan
Tanda    :   Turgor kulit buruk
Edema dependen
Berkeringat
Penurunan berat badan, penurunan massa otot / lemak subkutan
e.       Hygiene
Gejala    :   Penurunan kemampuan/ peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda    :   Kebersihan buruk, bau badan

f.       Pernafasan
Gejala    :   Nafas pendek khususnya pada kerja, cuaca atau episode berulangnya sulit nafas, rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas
Lapar udara kronis
Batuk menetap dengan produksi sputum
Tanda    :   Pernafasan biasanya cepat, dapat lambat, fase ekspirasi memanjang
Penggunaan otot bantu pernafasan misal : meninggikan bahu, retraksi fosa supraklavikula, melebarkan hidung
Dada : terlihat hiperinflasi dengan peningkatan diameter AP, gerakan diafragma minimal
Bunyi nafas : mengi sepanjang area paru pada ekspirasi dan kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampai penurunan atau tidak adanya bunyi nafas
Perkusi : bunyi pekak pada paru
g.      Keamanan
Gejala    :   Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/ faktor lingkungan
Adanya/ berulangnya infeksi, kemerahan / berkeringat
h.      Seksualitas
Gejala    :   Penurunan libido
i.        Interaksi Sosial
Gejala    :   Hubungan ketergantungan
Kurang sistem pendukung
Kegagalan dukungan dari / terhadap pasangan / orang terdekat
Penyakit lama atau ketidakmampuan membaik
Tanda    :   Ketidakmampuan untuk membuat/mempertahankan suara karena distres pernafasan
Keterbatasan mobilitas fisik
Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain
j.        Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala    :   Penggunaan/ penyalahgunaan obat pernafasan
Kesulitan menghentikan merokok
Penggunaan alkohol secara teratur
Kegagalan untuk membaik
(Marilynn E. Doenges, 1999; 152-155)

2.    Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok di mana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah (Carpenito, 2000; 53).
Tujuan diagnosa keperawatan adalah untuk mengidentifikasi :
a.       Masalah dimana adanya respon klien terhadap status kesehatan atau penyakit.
b.      Faktor-faktor yang menunjang atau menyebabkan suatu masalah.
c.       Kemampuan klien untuk mencegah atau menyelesaikan masalah.
Langkah-langkah dalam diagnosa keperawatan dapat dibedakan menjadi :
a.       Klasifikasi dan analisa data
b.      Interpretasi data
c.       Validasi data
d.      Perumusan diagnosa keperawatan
(Nursalam, 2001; 36)
Diagnosa keperawatan dapat dibedakan menjadi 5 kategori : aktual, resiko, kemungkinan, keperawatan wellnes, keperawatan sindrom. (Carpenito, 2000; 55)
Diagnosa yang mungkin timbul pada asma bronkial adalah :
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme, peningkatan produksi sekret, penurunan energi/ kelemahan.
b.       Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara), kerusakan alveoli.
c.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea, anorexia, mual/ muntah.
d.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama dan imunitas.
e.       Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan berhubungan dengan kurang informasi.
(Marilynn E. Doengoes, 1999; 156-163)

3.    Perencanaan

Perencanaan merupakan pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, mengoreksi, masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi.
Ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam langkah-langkah penyusunan perencanaan yaitu : menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan dokumentasi. (Nursalam, 2001; 41)
Untuk menentukan prioritas ada dua hirarki yang dapat digunakan yaitu :
a.       Hirarki “Maslow”, membagi kebutuhan dalam lima tahap yaitu : kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, sosial, harga diri dan aktualisasi.         
1.      Kebutuhan fisiologis (physiological need) yang merupakan kebutuhan pokok utama.
Misalnya   :   udara segar O2, air (H2O), cairan elektrolit, makan dan seks.
2.      Kebutuhan akan rasa aman (safety need)
Misalnya   :   rasa aman terhindar dari penyakit, gangguan pencurian, perlindungan hukum.
3.      Kebutuhan mencintai dan dicintai (love need)
Misalnya   :   mendambakan kasih sayang, ingin dicintai/diterima oleh kelompok.
4.      Kebutuhan harga diri (esteem need)
Misalnya   :   ingin dihargai/ menghargai : adanya respek dari orang lain, toleransi dalam hidup berdampingan.
5.      Kebutuhan aktualisasi diri (elf actualization needs)
Misalnya   :   ingin diakui/ dipuja, ingin berhasil, ingin lebih menonjol lebih dari orang lain.
b.      Hiraki “Kalish”, menjelaskan kebutuhan Maslow lebih mendalam dengan membagi kebutuhan fisiologi menjadi kebutuhan untuk bertahan hidup dan stimulasi (Nursalam, 2001; 42).
Setelah penyusunan prioritas perencanaan diatas maka langkah selanjutnya adalah penyusunan rencana tindakan. Adapun rencana tindakan dari diagnosa keperawatan yang muncul pada asma bronkial adalah sebagai berikut :
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme, peningkatan produksi sekret, penurunan energi/kelemahan.
Tujuan              : Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih / jelas.
Kriteria Hasil    : Menunjukan perilaku perbaikan bersihan jalan nafas, misalnya batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Intervensi:
Mandiri
1)      Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas misalnya : mengi, ronki.
R  :   Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat / tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius.
2)      Kaji / pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi / ekspirasi.
R  :   Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres.
3)      Pertahankan polusi lingkungan minimum misalnya : debu, asap yang berhubungan dengan kondisi individu.
R  :   Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat mentriger episode akut.
4)      Dorong / bantu latihan nafas abdomen atau bibir.
R  :   Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara.
5)      Observasi karakteristik batuk misal : menetap, batuk pendek dan basah.
R  :   Batuk dapat menetap tapi tidak efektif terutama pada lansia, sakit akut atau kelemahan.

Kolaborasi :
6)      Berikan obat sesuai indikasi.
a)      Bronkodilator misal : adrenalin dan profentil.
R  :   Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal, menurunkan produksi mukus dan mengi.
b)      Xantin misal : aminopillin, okstripillin dan teofilin.
R  :   Menurunkan edema mukosa dan spasme otot polos dengan peningkatan langsung siklus AMP.
7)      Berikan humidifikasi tambahan misal : nebulizer ultranik
R  :   Kelembaban menurunkan sekret dan mempermudah pengeluaran.

b.    Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret, spasme bronkus, jebakan udara), kerusakan alveoli.
Tujuan              : Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan.
Kriteria Hasil    : Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam meningkatkan kemampuan / situasi.
Intervensi :
Mandiri
1)        Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan penggunaan otot aksesori.
R  :   Berguna dalam evaluasi derajat distres pernafasan.
2)        Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas.
R  :   pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi.
3)        Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
R  :   Sianosis mungkin perifer (pada kuku) atau sentral (bibir / daun telinga).
4)        Dorong mengeluarkan sputum.
R  :   Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil.
Kolaborasi :
5)        Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi.
R :   dapat memperbaiki / mencegah memburuknya hipoksia.
6)        Berikan penekan SSP misal : sedatif atau narkotik dengan hati-hati.
R :   digunakan untuk mengontrol ansietas / gelisah yang meningkatkan konsumsi oksigen.

c.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea, anoreksia, mual / muntah.
Tujuan              : Menunjukan peningkatan BB menuju tujuan yang tepat.
Kriteria Hasil    : Menunjukan perilaku / perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan / atau mempertahankan berat yang tepat.
Intervensi :          
Mandiri
1)        Kaji kebiasaan diet, masukkan makanan saat ini.
R :   pasien distres pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksi sputum.
2)        Auskultasi bunyi usus.
R :   Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster.
3)        Berikan perawatan oral, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai.
R :   Rasa tidak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu makan dan dapat membuat mual dan muntah.
4)        Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
R :   Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen.


5)        Timbang berat badan sesuai indikasi.
R :   Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
Kolaborasi
6)        Konsultasi ahli gizi / nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah di cerna.
R :   metode makanan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi / kebutuhan individu.
7)        Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi.
R :   menurunkan dispnea dan meningkatkan energi untuk makan dan meningkatkan masukan.

d.   Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama dan imunitas.
Tujuan              : Menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko individu.
Kriteria hasil     : Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi. Menunjukan tekhnik, perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.


Intervensi:
Mandiri
1)        Observasi suhu tubuh klien.
R :   demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi.
2)        Kaji pentingnya latihan nafas, batuk efektif dan masukan cairan adekuat.
R :   Aktivitas ini meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekret untuk menurunkan resiko infeksi paru.
3)        Observasi warna, karakter dan bau sputum.
R :   sekret berbau, kuning atau kehijauan menunjukkan adanya infeksi paru.
4)        Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum.
R :   Mencegah penyebaran patogen melalui cairan.
Kolaborasi
5)        Dapatkan spesimen batuk atau penghisapan sputum pewarnaan kuman gram negatif.
R :   dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap anti mikrobial.
6)        Berikan anti mikrobial sesuai indikasi.
R :   Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur.

e.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan              : Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan.
Kriteria Hasil    : Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor penyebab.
Intervensi :
Mandiri
1)        Jelaskan proses penyakit individu, dorong pasien dan keluarga untuk bertanya.
R :   menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.
2)        Instruksikan rasional untuk latihan nafas, batuk efektif dan latihan kondisi umum.
R :   nafas abdominal menguatkan otot pernafasan, membantu meminimalkan kolaps jalan nafas kecil.
3)        Diskusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang diinginkan.
R :   Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan efek samping merugikan.

4)        Diskusikan faktor individu yang meningkatkan kondisi.
R :   faktor lingkungan dapat menimbulkan / meningkatkan iritasi bronkial dan menimbulkan peningkatan produksi sekret dan hambatan jalan nafas.
5)        Tekankan pentingnya perawatan oral / kebersihan gigi.
R :   menurunkan pertumbuhan bakteri pada mulut dimana dapat menimbulkan infeksi saluran nafas atas.
(Marilynn E Doengoes, 1999; 156)

4.    Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan perawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. (Iyer, et.al, 1996; dikutip dari Nursalam, 2001; 53)
Tahap ini merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan, oleh karena itu pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan dirumuskan dan mengacu pada rencana tindakan sesuai skala sangat urgen, urgen dan tidak urgen (non urgen).
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu: persiapan, perencanaan dan pendokumentasian. (Griffith, 1986; dikutip dari Nursalam, 2001; 53).
a.    Fase Persiapan meliputi :
1)   Review antisipasi tindakan keperawatan
2)   Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
3)   Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul
4)   Persiapan alat (resources)
5)   Persiapan lingkungan yang kondusif
6)   Mengidentifikasi aspek hukum dan etik
b.    Fase Intervensi terdiri atas :
1)   Independen : tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter atau tim kesehatan lainnya.
2)   Interdependen : tindakan perawat yang memerlukan kerjasama dengan kesehatan lainnya (gizi, dokter, laboratorium dan lain-lain).
3)   Dependen : berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana tindakan medis dilakukan.
c.    Fase Dokumentasi
Merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah dilaksanakan.
Dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien dengan Asma Bronkial, perawat dapat berperan sebagai pelaksana keperawatan, pemberi support, pendidik, advokasi, konselor dan pencatat/ penghimpun data.

5.    Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan yang digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan dari asuhan keperawatan dan proses ini berlangsung terus menerus yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang diinginkan.
Ada empat yang dapat terjadi pada tahap evaluasi, yaitu :
a.       Masalah teratasi seluruhnya.
b.      Masalah teratasi sebagian.
c.       Masalah tidak teratasi.
d.      Timbul masalah baru.
Evaluasi adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis pada status kesehatan klien. (Griffith, et. al, 1986; dikutip dari Nursalam, 2001; 71).
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. (Ignatavicius dan Bayne, 1994; dikutip dari Nursalam, 2001; 71).
Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik rencana keperawatan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan melalui standar yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam hal ini penilaian yang diharapkan pada klien dengan gangguan sistem pernafasan Asma Bronkial adalah:
a.       Jalan nafas bersih.
b.      Pertukaran gas berjalan dengan baik atau normal.
c.       Nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh.
d.      Infeksi tidak terjadi atau dapat dicegah.
e.       Pengetahuan klien dan keluarga tentang kondisi penyakitnya bertambah.
(Marilynn E. Doengoes, 1999; 155)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar