Kamis, 13 Januari 2011

Asuhan Keperawatan Osteomielitis


A.     Pengertian
Osteomielitis adalah infeksi pada jaringan tulang tulang dan dapat bersifat akut maupun kronis (Price, 2002).
Osteomielitis merupakan infeksi pada tulang yang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi pada jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respon jaringan terhadap infeksi, tingginya tekanan jaringan dan pembekuan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati) (Smeltzer, 2002)
Osteomielitis adalah infeksi tulang panjang yang disebabkan oleh infeksi lokal akut atau trauma tulang, biasanya disebabkan oleh E. Coli, Stapilococcus Aurius atau Streptococcus Pyogenes. (Tucker, 1998)
Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena penyebaran infeksi dari darah. (Corwin, 1996)
Osteomielitis adalah infeksi tulang yang biasanya disebabkan oleh bakteri, tetapi kadang-kadang disebabkan oleh jamur. (http://www.eMedicine.com/osteomielitis.html)
Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa osteomielitis adalah infeksi pada jaringan tulang yang sulit disembuhkan, disebabkan oleh bakteri atau jamur dan bersifat akut ataupun kronis.

B.     Patofisiologi
Menurut Rasjad (1998),  Smeltzer (2002) dan Tucker (1998) osteomielitis biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan mikrorganisme lainnya. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul karena adanya penyebaran infeksi dari tempat lain seperti faringitis, otitis media dan impetigo. Bakterinya (Stapilococcus Aureus, Hemofilus Influenza) berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam sinusoid. Akibat proses perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat peradangan yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan.

Pada orang dewasa, osteomielitis juga dapat diawali oleh bakteri dalam aliran darah, namun biasanya akibat kontaminasi jaringan saat cedera atau operasi. Awitan osteomielitis setelah pembedahan orthopedi dapat terjadi selama 3 bulan  (akut fulminan ; stadium I) dan sering berhubungan dengan  penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi selama 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (Stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan. Osteomielitis dapat juga terjadi akibat isufisiensi vaskuler seperti diabetes melitus, aterosklerosis, alat fiksasi yang terpasang, obesitas, lansia dan status nutrisi yang buruk.

Jika infeksi dibawa oleh darah biasanya awitannya mendadak dan akan menimbulkan gejala seperti menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat, malaise dan keengganan menggerakkan anggota badan yang sakit. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan nyeri tekan. Bila osteomielitis terjadi akibat kontaminasi langsung, selain gejala diatas biasanya disertai tanda-tanda cedera dan pembesaran kelenjar getah bening regional.

Apabila kondisi ini berlangsung terus menerus dapat mengakibatkan  septikemia, infeksi yang bersifat metastatik, Artritis supuratif, kontraktur sendi, osteomielitis kronis serta perubahan menjadi ganas pada jaringan epidermis (karsinoma epidermoid, ulkus marjolin).

C.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada klien  dengan osteomielitis terdiri dari penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan keperawatan.

1.      Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis osteomielitis menurut Rasjad (1998) dan Tucker (1998) adalah sebagai berikut :
a.       Pemberian antibiotik yang bertujuan untuk : mencegah terjadinya penyebaran infeksi pada tulang yang sehat dan mengontrol ekserbasi akut.
b.      Tindakan operatif dilakukan bila fase ekserbasi akut telah reda setelah pemberian antibiotik yang adekuat. Operasi yang dilakukan bertujuan untuk : mengeluarkan seluruh jaringan nekrotik, baik jaringan lunak maupun jaringan tulang (sekuestrum) sampai ke jaringan sehat lainnya, yang selanjutnya dilakukan drainase dan irigasi secara kontinue selama beberapa hari, (adakalanya diperlukan penanaman rantai antibiotik di dalam bagian tulang yang terinfeksi) dan sebagai dekompresi pada tulang dan memudahkan antibiotik mencapai sasaran serta mencegah penyebaran osteomielitis lebih lanjut.
c.       Pemberian cairan parenteral / intravena dan kalau perlu tranfusi darah.
d.      Pengaturan diet dan aktivitas.

2.      Penatalaksanaan keperawatan
Menurut Smeltzer (2002) dan Tucker (1998) penatalaksanaan keperawatan pada osteomielitis adalah sebagai berikut :
a.       Daerah yang terkena harus dimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur.
b.      Dapat dilakukan rendaman salin selama beberapa kali selama 20 menit perhari untuk meningkatkan aliran darah.
c.       Kompres : hangat, atau selang seling hangat dan dingin.

D.    Pengkajian
Pengkajian pada klien osteomielitis menurut Smeltzer (2002), Rasjad (1998)                                                                            dan Tucker (1998) meliputi :
1.      Kaji terhadap faktor-faktor risiko (misalnya usia lanjut, diabetes, status nutrisi yang buruk) dan cedera sebelumnya, infeksi atau bedah ortopedik.
2.      Amati terhadap gerakan yang tampak sangat hati-hati dari area yang terinfeksi dan kelelahan umum akibat infeksi sistemik.
3.      Amati terhadap pembengkakan pada area yang sakit, drainase purulen dan peningkatan suhu tubuh.
4.      Perhatikan bahwa pasien dengan osteomielitis kronis mungkin hanya mengalami kenaikan suhu minimal, terjadi pada siang atau sore hari.
5.      Pada pemeriksaan fisik biasanya didapati : peningkatan suhu tubuh yang cepat, menggigil, diaporesis, spasme otot di sekitar sendi yang sakit, tachikardi, sakit kepala, gelisah, mudah tersinggung, kelemahan, nyeri dan pembengkakan pada sendi yang terkena  meningkat dengan adanya gerakan.
6.      Pemeriksaan diagnostik
a.       Scan tulang dengan menggunakan nukleotida berlabel radioaktif dapat memperlihatkan peradangan di tulang.
b.      Pemeriksaan darah
1)      Sel darah putih meningkat sampai 30.000 /ul disertai peningkatan laju endap darah.
2)      Pemeriksaan titer antibodi – anti stapilococcus.
3)      Pemeriksaan kultur darah dan pus kultur untuk menentukan jenis bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitifitas untuk menentukan jenis antibiotik yang sesuai, juga harus diperiksa adanya penyakit anemia sel sabit.
c.       Pemeriksaan feses : dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi yang disebabkan oleh bakteri salmonella dan E. Coli.
d.      Pemeriksaan biopsi : dilakukan ditempat yang dicurigai.
e.       Pemeriksaan ultrasound : memperlihatkan adanya efussi pada sendi.
f.        Pemeriksaan radiologis : pemeriksaan foto polos dalam sepuluh hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan jaringan lunak. Gambaran destruksi tulang dapat terlihat setelah sepuluh hari (2 minggu) berupa refraksi tulang yang bersifat difus pada daerah metafisis dan pembentukan tulang baru di bawah periosteum yang terangkat.

E.     Diagnosa keperawatan
Setelah data dikumpulkan dilanjutkan dengan analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan. Menurut Tucker (1998) dan Smeltzer (2002), diagnosa keperawatan pada klien dengan osteomielitis adalah sebagai berikut :
1.      Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi.
2.      Potensial terhadap infeksi yang berhubungan dengan kemajuan invasi bakteri.
3.      Nyeri berhubungan dengan inflamasi, insisi dan drainase.
4.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan di rumah.

F.      Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan ditemukan, dilanjutkan dengan menyusun perencanaan untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas diagnosa keperawatan, penetapan tujuan dan kriteria evaluasi menurut Tucker (1998) dan Smeltzer (2002) sebagai   berikut :
1.      Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi.
Tujuan : Mobilitas fisik membaik
Kriteria hasil  : a). Penggunaan mobilitas dan persendian membaik.  b). Keikutsertaan dalam perawatan diri sendiri meningkat.  c). Edema berkurang.
Perencanaan   : a). Pertahankan tirah baring : tangani ekstremitas yang sakit dengan lembut. b). Imobilisasi sendi / ekstremitas menggunakan gips ; tinggikan untuk mengurangi edema.  c). Bantu dan ajarkan latihan ROM pasif atau aktif pada ekstremitas yang sakit setiap 4 jam dan nafas dalam setiap ½ jam.  d). Libatkan dalam pembuatan rencana perawatan dan berikan dorongan untuk melakukan perawatan diri.                          e). Tingkatkan sosialisasi.  f). Pantau terhadap tanda trombosis vena, tanda Homan’s dan edema.  g). Lakukan perawatan kulit.  h). Berikan lingkungan yang nyaman.  i). Berikan dorongan dan dukungan untuk setiap pencapaian yang dilakukan pasien.

2.      Potensial terhadap infeksi yang berhubungan dengan kemajuan invasi bakteri.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil  : a). Menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.  b). Luka insisi sembuh tanpa menunjukkan adanya bukti-bukti terjadinya infeksi.
Perencanaan   : a). Lakukan pemeriksaan kultur darah dan pus kultur serta pantau hasilnya. b). Pertahankan cairan parenteral dengn antibiotik.  c). Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam. d). Pasang kompres hangat dan basah bergantian  e). Kolaborasi untuk eksisi dan drainase bila terdapat lesi terinfeksi. f). Pantau haluaran dan masukan.           g). Pantau insisi terhadap perdarahan.  h). Ganti balutan ; pertahankan tekhnik aseptik.  i). Berikan diet tinggi protein tinggi kalori sesuai toleransi.

3.      Nyeri berhubungan dengan inflamasi, insisi dan drainase.
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil  : a). Melaporkan bahwa tingkat nyerinya dapat ditoleransi. b). Waktu istirahat dan aktifitas seimbang.  c). Menunjukkan lebih nyaman dan rileks.
Perencanaan   : a). Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri.  b). Berikan analgesik sesuai indikasi ; kaji efektifitas tindakan penurun rasa nyeri.  c). Bantu pasien dalam mengganti posisi dengan sering ; berikan penyangga pada bagian ekstremitas yang terkena ; lakukan gosok punggung.  d). Berikan aktifitas hiburan.  e). Diskusikan dan tingkatkan tindakan penurun rasa nyeri alternatif.

4.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan di rumah.
Tujuan : Pengetahuan meningkat
Kriteria hasil  : a). Memperlihatkan kemampuan untuk melakukan perawatan luka.       b). Mengungkapkan pengertian mengenai proses penyakit, kemungkinan komplikasi dan program rehabilitasi.  c). Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan.
Perencanaan   : a). Berikan dan bicarakan informasi tentang program rehabilitasi yang disarankan : instruksi terapi fisik dan perawatan di rumah.  b). Peragakan perawatan luka insisi dan tekankan pentingnya tekhnik aseptik dan mandi pancuran sehari-hari.            c). Berikan informasi tentang proses penyakit dan komplikasi.  d). Diskusikan tentang tanda dan gejala untuk dilaporkan pada dokter : nyeri tekan, nyeri, rasa tidak nyaman, demam, malaise, haluaran dari insisi.  e). Berikan obat-obatan sesuai jadwal, termasuk nama, dosis dan efek samping ; instruksikan pasien untuk minum semua obat yang diresepkan.  f). Tekankan pentingnya diet yang bergizi dan memperbanyak masukan cairan.  g). Tingkatkan kunjungan ke dokter teratur.

G.    Pelaksanaan
Pelaksanaan menurut Potter (2005), merupakan tindakan mandiri berdasarkan ilmiah, masuk akal dalam melaksanakan yang bermanfaat bagi klien yang diantisipasi berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Tindakan keperawatan pada klien dapat berupa tindakan mandiri maupun tindakan kolaborasi. Dalam pelaksanaan tindakan, langkah-langkah yang dilakukan adalah mengkaji kembali keadaan klien, validasi rencana keperawatan, menentukan kebutuhan dan bantuan yang diberikan serta menetapkan strategi tindakan yang dilakukan. Selain itu juga dalam pelaksanaan tindakan, semua tindakan yang dilakukan pada klien dan respon klien pada setiap tindakan keperawatan didokumentasikan dalam catatan keperawatan. Dalam pendokumentasian catatan keperawatan hal yang perlu didokumentasikan adalah waktu tindakan dilakukan, tindakan dan respon klien serta diberi tanda tangan sebagai aspek legal dari dokumentasi yang dilakukan.

H.    Evaluasi
Evaluasi menurut Hidayat (2007), merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai, berdasarkan standar atau kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan aspek penting didalam proses keperawatan, karena menghasilkan kesimpulan apakah intervensi keperawatan diakhiri atau ditinjau kembali atau dimodifikasi. Dalam evaluasi prinsip obyektifitas, reabilitas dan validitas dapat dipertahankan agar keputusan yang diambil tepat. Evaluasi proses keperawatan ada dua arah yaitu evaluasi proses (evaluasi formatif) dan evaluasi hasil (evaluasi sumatif). Evaluasi proses adalah evaluasi yang dilakukan segera setelah tindakan dilakukan dan didokumentasikan pada catatan keperawatan. Sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan untuk mengukur sejauh mana pencapaian tujuan yang ditetapkan dan dilakukan pada akhir keperawatan.



Asuhan Keperawatan Gastritis


A.       Konsep Dasar

1.  Anatomi
Lambung terletak oblig dari kiri ke kanan yang menyilang di abdomen atas tepat di bawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung seperti huruf J dan bila penuh berbentuk seperti alpukat raksasa. Kapasitas normal lambung satu sampai dua liter. Secara anatomis lambung terbai atas fundus, corpus dan antrum pylorus. Pada sebelah kanan  atas lambung terdapat cekungan kurvatura mayor. Sfingter pada kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kedua ( Sfingter esophagus bawah ) mengalirkan makanan masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esophagus kembali. Di saat sfingter pylorus relaksasi, makanan masuk ke dalam duodenum, dan ketika berkontraksi sfingter ini mencegah terjadinya aliran balik isi usus halus ke dalam lambung.

Sfingter pylorus memiliki arti klinis yang penting karena dapat mengalami stenosis sesbagai komplikasi dari penyakit tukak lambung. Lambung sendiri terdiri atas 4 lapisan. Tunika Serosa merupakan bagian peritoneum viseralis yang menyatu pada kurvatura minor lambung dan duodenum, dan terus memanjang ke arah hati membentuk omentum minus.

Bagian muskularis tersusun menjadi tiga lapis yaitu lapisan longitudinal, sirkular dan lapisan oblig bagian dalam. Susunan serat otot ini diperlukan untuk memecah makanan menjadi partikel-partikel yang kecil, mengaduk dan mencampur makanan tersebut dengan cairan lambung dan mendorongnya ke arah duodenum. Submukosa memungkinkan mukosa bergerak bersama gerakan peristaltic. Lapisan ini mengandung lapisan fleksus saraf, pembuluh darah dan saluran limfe. Mukosa lapisan dalam lambung yang tersusun dari rugae, dengan adanya rugae ini dapat berdistensi sewaktu diisi makanan. ( Price, Sylvia, A, et al, 1995 ).

Ada beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini menurut price, Sylvia, A, et al, 1995 yaitu :
a.    Kelenjar kardia mensekresi mukus
b.   Kelenjar fundus/gastric terletak hamper di seluruh corpus, yamg mana kelenjar ini   memiliki tiga tipe utama sel, yaitu :
1)      Sel zigmogenik/chief cell, mesekresi pepsinogen. Pepsinogen ini     diubah menjadiu pepsin dalam suasana asam.
2)      Sel parietal, mensekresi asam hidroklorida dan factor intrinsic. Faktor intrinsic diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 dalam usus halus.
3)      Sel G menghasilkan hormone gastrin. Sel G sendiri terletak pada daerah pylorus lambung.

Menghambat pergerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf Persarafan lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum diantarkan dari abdomen melalui  saraf vagus. Serabut-serabut aferan menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan, kontraksi otot dan peradangan, yang dirasakan di daerah epigastrium. Serabut-serabut eferen simpatis mesentrikus dan submukosa membentuk persarafan intrinsic dinding lambung dan mengkoordinasikan aktifitas motorik dan sekresi mukosa lambung.

Suplai darah dilambung dan pancreas berasal dari arteri seliaka. Dua cabang arteri yang penting dalam klinis adalah arteri duodenalis dan pankreati duodenalis yang berjalan sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding posterior duodenum dapat mengerosi arteri itu menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum serta berasal dari pankreas, limpa dan bagian lain saluran cerna berjalan ke hati melalui vena porta.

  1. Fisiologi
Pengaturan sekresi lambung dapat dibagi menjadi beberapa fase menurut Price, Syvia, A, et al, 1995, yaitu :
1)      Fase sefalik, yang dimulai bahkan sebelum makanan masuk kelambung, yaitu sebagai akibat melihat, mencium memikirkan atau mengecap makanan. Sinyal neurogenik yang menyebabkan fase sefalik berasal dari korteks serebri.
2)      Fase gastric, dimulai saat makanan mencapai antrum pylorus. Distensi pada antrum menyebabkan terjadinya rangsangan mekanis dari reseptor-reseptor pada dinding lambung. Impuls-impuls ini merangsang pelepasan hormone gastrin dan secara lanmgsung juga merangsang kelenjar-kelenjar lambung. Pelepasan gastrin juga dirangsang oleh Ph alkali, garam empedu di antrum dan terrutama oleh protein makanan dan alcohol. Gastrin adalah stimulasi utama sekresi asam hidroklorida.
3)      Fase intestinal, dimulai oleh gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Adanya protein yang telah dicerna sebagian dalam duodenum tampaknya merangsang gastrin usus, suatu hormone yang menyebabkan lambung terus menerus mensekresikan cairan langsung.
Adapun fungsi lambung menurut Price, Sylvia, A, et al, 1995, yaitu :
a.       Fungsi motorik yang terdiri dari :
1)      Fungsi reservoir, menyimpan makanan sampai sedikit demi sedikit bergerak pada saluran cerna, menyesuaikan peningkatan volume tanpa menambah tekanan dengan relaksasi.
2)      Fungsi mencampur, memecah makanan menjadi partikel-partikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung.
3)      Fungsi pengongsongan lambung; diatur oleh factor syaraf dan hormonal.
b.      Fungsi pencernaan dan sekresi
1)      Pencernaan protein oleh pepsin dan Hcl.
2)      Sintesis dan pelepasan gastrin.
3)      Sekresi factor intrinsic.
4)      Sekresi mucus.

B.     Konsep Dasar Penyakit Gastritis

1.      Pengertian
Gastritis adalah peradangan pada permukaan mukosa lambung yang dimana ditemukan adanya kerusakan-kerusakan berupa erosi. ( Soeparman, Waspadji, Sarwono, 1998 ).

Terjadinya radang difus di mukosa lambung, dengan erosi-erosi yang mungkin berdarah dan sering menyebabkan nyeri epigastrium. ( Junaidi, Purnawan, dkk, 1996 ).

Gastritis adalah peradangan pada mukosa gaster yang merupakan akibat ketidakmampuan gaster menerima suatu zat atau makanan, yang mana penyakit ini digolongkan sebagai suatu infeksi pada saluran pencernaan.         ( Price, Sylvia, A, 1995 ).

Gastritis merupakan peradangan yang umum, terjadinya pada seluruh populasi terutama pada tahun-tahun lanjut dan kehidupan dewasa. ( Guyton, Arthur C, Hall E, Johni, 1999 ).

Gastritis merupakan salah satu gangguan pada saluran cerna berupa erosi dan perdarahan akibat factor-faktor agresif atau akibat gangguan sirkulasi akut mukosa lambung. ( Mansjoer, Arif, 1990 ).

2.      Etiologi
Adapun etiologi Gastritis menurut Soeparman, dkk, 1990, yaitu sebagai berikut :
a.       Gastritis akut erosif dapat timbul tanpa diketahui sebabnya. Penyebab yang paling sering dijumpai adalah :
1)      Obat analgetik antiinflamasi, terutama aspirin. Dalam dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung.
2)      Bahan kimia misalnya lysol.
3)      Merokok.
4)      Alkohol.
5)      Stress fisik yang disebabkan oleh luka baker, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan suasana saraf pusat.
6)      Refluks usus lambung.
7)      Endotoksin.
b.            Gastritis kronik
Etiologi pada umumnya belum diketahui Gastritis kronik juga sering dijumpai bersama-sama dengan penyakit lain, misalnya : anemia pernisiosa, anemia defisiensi besi karena adanya perdarahan kronis.

3.      Patofisiologi
Lambung merupakan tempat penyimpanan makanan pada saluran pencernaan. Makanan yang masuk ke saluran pencernaan yang mengandung zat iritan ( alcohol, nikotin, asam, dan pedas ) dan endotoksin akan menyebabkan stressor fisis. Dan stressor psikologis akan menstimulasi saraf simpatis dan parasimpatis. Kedua penyebab yaitu stressor fisis dan stressor psikologis akan menyebabkan peningkatan enzim lambung ( Hcl dan Gastrin )  kemudian terjadilah akumulasi dan konsentrasi asam meningkat pada lambung. Akibat dari asam lambung meningkat akan mengiritasi mukosa lambung, maka terjadi lisis yang akan menimbulkan penyakit gastritis. Manifestasi dari Gastritis secara psikologis yaitu cemas. Sedangkan manifestasi klinis yaitu nyeri epigastrium, mual, anoreksia, distensi abdomen dan susah tidur. ( Soeparman, dkk, 1990 ).

Terdapat gangguan keseimbangan factor agresif dan factor divensive sehingga terjadi kerusakan atau kelainan patologi. Dengan adanya iritasi yang terus menerus, jaringan jadi mengakibatkan peradangan dan nekrosis pada dinding lambung.
Factor-faktor penyebab iritasi lambung menurut arief Mansjoer, 2001 :

Faktor agresif
Faktor defensive

·         Asam lambung
·         Pepsin
·         AINSD
·         Empedu
·         Infeksi virus
·         Infeksi bakteri ; H. pylori
·         Bahan korosif; asam dan basa

·         Mukus
·         Bikarbonas mukosa
·         Prostaglandin mikrosirkulasi

4.      Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasinya Gastritis menurut Price, Sylvia A, et al, 1995 dapat dibagi menjadi dua jenis, yang paling sering terjadi yaitu :
a.       Gastritis superfisialis akut
Gastritis ini merupakan jenis yang paling sering ditemukan, biasanya jinak, dapat sembuh sendiri. Ini merupakan respon dari mukosa lambung terhadap berbagai iritan local. Endoktoksin, bakteri kafein, alcohol dan aspirin serta makanan berbumbu ( lada ataupun cuka ) dapat menjadi penyebab timbulnya gejala yang mengarah pada gastritis.

b.      Gastritis atrofik kronik
Merupakan gastritis karena adanya atrifi progresif pada epitel kelenjer yang disertai hilangnya sel parietal dan chief cell. Hal ini menyebabkan penurunan dari produksi asam klorida, pepsin dan factor intrinsic menurun. Dinding lambung menipis dan mukosa permukaannya menjadi rata. Gastritis atrofik kronik diduga menjadi factor predisposisi timbulnya tukak lambung dan karsinoma.

5.      Manifestasi klinis
Manifestasi klinis Gastritis menurut Price, Sylvia A, 1995, yaitu :
a.       Gastritis akut
Dapat bervariasi dari keluhan seperti anoreksia atau mual, sampai gejala yang lebih berat seperti nyeri epigastrium, muntah, perdarahan dan hematomesis.
b.      Gastritis atrofik kronik
Manifestasi klinik pada gastritis ini umumnya bervariasi dan tak jelas seperti perasaan penuh, anoreksia dan adanya distress epigastrik yang tak nyata.

6.    Pemeriksaan penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang Gastritis menurut Hudak dan Gallo, 1996, seperti di bawah ini :
a.       Nilai haemoglobin dan hematokrit untuk menentukan adanya anemia akibat perdarahan.
b.      Kadar serum gastrin rendah atau normal, atau meninggi pada gastritis kronik yang berat.
c.       Pemeriksaan rontgen dengan sinar X barium untuk melihat kelainan mukosa lambung.
d.      Endoskopi dengan menggunakan gastrocopy untuk melihat kelainan mukosa lambung.
e.       Pemeriksaan asam lambung untuk mengetahui ada atau tidak peningkatan asam lambung.

7.      Komplikasi dari gastritis. ( Mansjoer Arief, et al , 1999)
1)        Perdarahan saluran cerna bagian atas
2)        Ulkus
3)        Perporasi
4)        Anemia kerena gangguan absorbsi vitamin B12

8.      Pengobatan
a.       Gastistis akut menurut Price, Sylvia A, 1995, yaitu :
1)      Pemberian obat-obat anti muntah dalam membantu menghilangkan gejala mual dan muntah.
2)      Jika muntah terus menerus perlu dilakukan pemantauan terhadap pemenuhan cairan dan elektrolit dengan memberikan infus intravena.
3)      Mengatasi penyebab apabila diketahui.
4)      Pemberian obat-obat H2  blocking (seperti ranitidine). Berguna mengurangi asam lambung.
5)      Istirahat fisik dan psikis serta makan lunak selama masa timbulnya penyakit.
b.      Gastritis kronis menurut Soeparman, dkk, 1990, yaitu :
1)      Pengobatan biasanya tergantung pada penyebab kelainan yang dicurigai, yang keluhannya dapat dihubungkan dengan Gastritis kronis.
2)      Pemberian vitamin B12.
3)      Jika penyebabnya ditemukan misalnya refluks usus lambung, sebaiknya dilakukan koreksi.

9.    Pencegahan
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya kembali serangan Gastritis baik akut maupun kronis, menurut Long C, Barbara, 1996, yaitu :
a.       Usahakan makan secara teratur.
b.      Hindari makanan yang merangsang seperti asam, pedas, maupun makanan yang terlalu manis.
c.       Hindari buah-buahan seperti durian, nenas, dan nangka.
d.      Hindari makanan ketan.
e.       Hindari sayuran yang rendah serat dan mengandung banyak gas seperti kol.
f.        Hindari minuman alkohol dan merokok.
g.       Kurangi mengkonsumsi kopi dan teh  
h.       Tetap lakukan makanan dengan porsi kecil tapi sering (tiap 2 atau 3 jam) dengan makan roti atau makanan lainnya.

C.     Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gastritis

Proses keperawatan adalah suatu metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan yang mana hal ini disebut sebagai penekanan Problem Solving yang memerlukan ilmu, tekhnik dan keterampilan inter personal dan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien atau keluarga (Nursalam, 2001).

Proses keperawatan sendiri terdiri atas lima tahap yang mendasar dan berhubungan. Kelima tahap tersebut adalah pengkajian, penentuan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Iyer et al, 1996).

Semua tahap ini berhubungan dengan fungsi intelektual problem sorving dan mendefinisikan suatu tindakan keperawatan.
1.      Pengkajian
Merupakan awal dari proses keperawatan yang meliputi aspek bio, psiko, sosio, spiritual. Pengkajian dimaksudkan untuk mendapatkan informasi atau data-data tentang pasien. Dimana data tersebut bisa berasal dari pasien sendiri yang disebut data primer maupun informasi yang berasal dari keluarga pasien dan catatan-catatan yang ada kaitannya dengan kondisi pasien serta  informasi dari tim kesehatan yang merawat pasien disebut data sekunder.

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan dasar utama dari proses keperawatan secara keseluruhan. Pengkajian keperawatan dibagi menjadi 4 tahap yaitu : pengumpulan data, validasi data, pengorganisasian data dan identifikasi masalah atau analisa masalah. (La Ode Jumadi Gaffar, S.Kp, 1999).

Untuk klien dengan Gastritis pada pengkajian didapat data-data sebagai berikut:
a.       Aktivitas/istirahat :
Gejala            : kelemahan, kelelahan
Tanda            : tacikardia, hiperventilasi 9respon terhadap aktivitas)
Sirkulasi
Gejala            : hipotensi (termasuk postural)
Tacikardia, disritmia (hipovolemia/hipoksemia)
Kelemahan nadi perifer
Pengisian kapiler lambat/perlahan
Kelembaban kulit/membrane mokosa : berkeringat
Psikologik
b.      Integritas ego
Gejala      : faktor stress akut atau kronis
Tanda       : tanda ansietas (gelisah)
c.       Eliminasi
 Gejala      : riwayat perawatan di rumah sebelumnya pernah mendapat masalah
d.      Abdomen
Tanda    : nyeri tekan abdomen, distensi.
e.       Makanan/cairan
Gejala  : anoreksia, mual, muntah, nyeri ulu hati. Tidak toleran    terhadap makanan; pedas, asam atau terlalu manis.
Tanda   : membran mukosa agak kering  (terutama bibir), jumlah makanan kurang dari kebutuhan tubuh. Cairan peroral kurang dari 2000 cc/hari.          
f.        Neurosensori
Gejala       : rasa pusing, kelemahan fisik.

g.       Nyeri/kenyamanan
Gejala      : nyeri digambarkan sebagai nyeri yang tajam, dangkal ataupun perih rasa ketidaknyamanan/distress samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan.
nyeri epigastrium pada kuadran 1 dan 2. Nyeri berkurang setelah  diberikan antansida.  
Factor pencetus : makanan yang merangsang, perokok, alkoholisme,
                                  Penggunaan obat-obat tertentu, stressor psikologik.
Tanda           : wajah berkerut, agak pucat.
h.       Psikososial dan penyakit keluarga
Kemungkinan dalam keluarga ada yang menderita penyakit gastrointestinal. Bagaimana persepsi klien terhadap penyakitnya dan bagaimana pemecahan yang diambilnya untuk mengatasinya.
i.         Penyuluhan dan pembelajaran
Gejala          : adanya kebiasaan untuk makan makanan yang pedas.

2.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau rperubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjadi status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 200).

Doenges (2000) mengatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah : masalah kesehatan actual, dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai kewenangan memberikan tindakan keperawatan.
Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan gastritis, yaitu :
a.       Nyeri berhubungan dengan iritasi lambung.
b.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan mual dan anorexia.
c.       Gangguan pemenuhan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyerigaigastrium
d.      Defisit knowledge berhubungan dengan kurang informasi.

3.      Perencanaan
Tahapan dalam perencanaan ini meliputi menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan pendukomentasian (Nursalam, 2001), terdapat tiga rencana tindakan dalam tahap rencana tindakan yaitu : rencana tindakan perawat, rencana tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lain) dan program atau perintah medis untuk klien yang dalam pelaksanaannya dibantu perawat (Carpenito, 2001).

Berdasarkan diagnosa keperawatan yang timbul pada klien dengan gastritis, maka rencana keperawatan yang dapat dirumuskan antara lain :
a.       Nyeri yang berhubungan dengan iritasi lambung.
Tujuan  : nyeri berkurang sampai dengan hilang.
Kriteria hasil   : - klien mengatakan nyeri berkurang
                                      - klien tampak rileks
  - tanda-tanda ulta  : TD, nadi dalam batas normal
Rencana tindakan :
1.      Kaji penyebab timbulnya nyeri atau terjadinya nyeri.
                  Rasional   : digunakan sebagai dasar tindakan selanjutnya
2.      Catat karateristik nyeri meliputi durasi, lokasi dan intensitasnya (skala 0 – 10)
Rasional   : mengetahui seberapa jauh nyeri dan menentukan etiologinya serta mengantisipasi terjadinya komplikasi.
3.      Observasi tanda-tanda vital
                  Rasional   : mengetahui keadaan umum klien
4.      Ciptakan suasana perawatan yang tenang.
                   Rasional   : mengurangi stimulus yang tidak diinginkan
5.      Ajarkan tehnik rileksasi dan nafas dalam
Rasional   : dapat mengurangi ketegangan syaraf sehingga klien lebih rilex dan  nyeri berkurang
6.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
                  Rasional   : medikamentosa dapat mengurangi nyeri.
b.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan   anoreksia.
            Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi.
             Kriteria hasil  : klien tidak mual lagi
              klien menghabiskan porsi makanan
peningkatan HB, peningkatan BB mencapai berat badan ideal, conjungtiva tidak eremis.
                Rencana tindakan :
1.      Kaji status nutrisi dan factor-faktor penyebab kurangnya intake nutrisi.
Rasional  : untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dari keadaan pasien. Dan perubahan yang terjadi.
2.      Anjurkan klien makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional  : mencegah perangsangan yang mendadak pada lambung
3.      Hindari makanan yang keras dan merangsang peningkatan asam lambung seperti pedas, asam, kopi, alcohol dan lain-lain.
Rasional  : untuk menghindari kerja lambung yang berat dan meminimalkan Iritasi pada lambung.                 
4.      Timbang berat badan setiap hari
Rasional  : untuk mengetahui perkembangan berat badan.
5.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antiematik
Rasional  : untuk mencegah mual, nyeri dan rasa tidak nyaman.
c.       Gangguan pemenuhan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri epigastrium
Tujuan   : setelah dilakukan intervensi diharapkan istirahat dantidur terpenuhi.

Kriteria hasil  :
-   Klien dapat tidur sesuai kebutuhannya.
-   Klien tidak terlihat lesu dan lemah
-   Tidak terlihat lingkaran hitam pada palpebra inferior dan superior.
Rencana tindakan :
1.      Kaji tingkat kebutuhan istirahat tidur
Rasional  : untuk mengetahui tingkat gangguan kebutuhan istirahat Tidur
2.      Atur posisi yang nyaman bagi klien.
Rasional   : dengan posisi yang mendukung dapat memberikan rasa nyaman
3.      Diskusikan dengan pasien tentang pola dan kebiasaan pada saat akan tidur.
Rasional   : dengan menggunakan kebiasaan yang sama walaupun dengan 
lingkungan yang berbeda diharapkan klien dapat tidur seperti biasa.     
4.      Ganti laken dan pakaian klien setiap hari.
Rasional   : agar klien merasa nyaman dan tidak gerah pada saat tidur.
5.      Ciptakan lingkungan yang terang dan nyaman.
Rasional   : dengan lingkungan terang diharapkan klien tidur dengan nyenyak.
6.      Berikan obat sesuai dengan indikasi.
Rasional   : mengurangi nyeri yang klien rasakan.
d.      Defisit knowledge berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pengertian     gastritis, etiologi, tanda dan gejala serta pencegahan.
Tujuan   : setelah dilakukan tindakan keperawatan kurangnya informasi dapat.
Kriteria hasil  :
         -  Klien dan keluarga tidak bertanya lagi
         - Klien dan keluarga mengerti tentang pengertian gastritis etiologi, tanda dan gejala pencegahan.
Rencana tindakan :
1.      Kaji tingkat pengetahuan klien
Rasional   : untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien.
2.      Beri penjelasan tentang penyakit gastritis, etiologi, tanda dan gejala serta pencegahan dan anjurkan pasien untuk kooperatif.
Resional   : Dengan penjelasan dapat meningkatkan pengetahuan klien serta keluarga  dan diharapkan dapat mencegah dari kekambuhan.
3.      Berimotivasi klien untuk sembuh
Rasional   : agar klien bermotivasi untuk sembuh.

4.      Pelaksanaan
Iyer, et al, (1996), mengatakan bahwa pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.

Tahap ini merupakan tahap keempat dari proses keperawatan, oleh karena itu pelaksanaannya sangat urgen, urgen, dan tidak urgen (non urgen). (Griffin, et al, 1968)

5.      Evaluasi
Menurut Griffin dan Christensen (1986), evaluasi adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis pada status kesehatan klien, sedangkan Ignatavius dan Bayne (1994), mengatakan evaluasi adalah tindakan yang intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang memandang seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.

Evaluasi yang digunakan mencakup 2 bagian yaitu evaluasi formatif yang disebut juga evaluasi proses dan evaluasi jangka pendek adalah evaluasi yang dilaksanakan secara terus menerus terhadap tindakan yang telah dilakukan. Sedangkan evaluasi sumatif yang disebut juga evaluasi akhir adalah evaluasi tindakan secara keseluruhan untuk menilai keberhasilan tindakan yang dilakukan dan menggambarkan perkembangan dalam mencapai sasaran yang telah ditentukan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format “SOAP” (Nursalam, 2001).

Dalam evaluasi diharapkan adanya pencapaian tujuan dan criteria hasil. Adapun evaluasi yang mungkin dapat dicapai dari respon klien   adalah :
a.       Rasa nyeri yang klien rasakan berkurang.
b.      Perubahan dari penemuan nutrisi kembali normal dengan ditandai dengan habisnya porsi makanan yang dihidangkan.
c.       Kebutuhan dari istirahat dan tidur klien dapat terpenuhi.
d.      Defisit knowledge akibat dari ketidaktahuan klien tentang penyakitnya dapat teratasi.