Kamis, 13 Januari 2011

Asuhan Keperawatan Thypoid Fever


A.     Konsep Dasar Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan
Saluran pencernaan makanan adalah saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus. (Syaifuddin, 1997 ; 87)
Saluran pencearnaan merupakan jalur ( panjang totalnya 23-26 kaki ) yang berjalan dari mulut melalui esofagus, lambung, usus dan anus (Brunner and Suddart, 2002 ; 984)
Fungsi utama dari sistem saluran pencernaan adalah:
1.  Memecahkan partikel makanan ke dalam bentuk molekuler untuk di cerna.
  1. Mengabsorbsi hasil pencernaan dalam bentuk molekul kecil ke dalam aliran darah.
  2. Mengeliminasi makanan yang tidak tercerna dan terabsorbsi dan produk sisa lain dari tubuh. (Brunner and Suddart, 2002 ; 984)
Saluran pencernaan terdiri dari : oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus) terdiri dari dua denum (usus 12 jari), yeyunum dan ileum, intestinum mayor (usus besar) terdiri dari seikum, kolon asendens, kolon transversum, kolon desendens dan kolon sigmoid, rektum dan anus.(Syaifuddin, 1997 ; 87)

  1. Mulut
Mulut adalah rongga lonjong pada permukaan saluran pencernaan, terdiri atas dua bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang diantara gusi serta gigi dengan bibir dan pipi. Bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi sisi-sisinya oleh tulang maksilaris dan semua gigi dan disebelah belakang bersambung dengan awal faring. (Pearce, 2002 ; 177)
a)      Bibir
Bibir tersusun dari otot rangka (orbikularis mulut) dan jaringan ikat. Organ ini berfungsi untuk menerima makanan dan produksi wicara.
b)      Lidah
Lidah adalah otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput yang liar, kerja otot lidah ini dapat digerakkan ke segala arah. (Syaifuddin, 1997 ; 76).Lidah berfungsi untuk menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan, untuk pengecapan dan dalam produksi wicara.
c)      Gigi.
Gigi tersusun dalam kantong-kantong (alveoli) pada mandibula dan maksila. Bagian terbesar gigi berasal dari mesoderm dan bagian lainnya dari ektoderm. Pada manusia dibedakan dua macam gigi. Gigi primer terdapat pada anak berjumlah lima buah pada setiap setengah rahang (jumlah seluruhnya 20). Gigi sekunder mulai keluar pada usia 5-6 tahun total keseluruhan 32 buah. Gigi berfungsi dalam proses mastikasi. Makanan yang masuk dalam mulut dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan bercampur dengan sarifah membentuk bolus makanan yang dapat ditelan. (Sloane, 2003 ; 284)
d)      Kelenjar saliva.
Terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus.
Fungsi saliva :
1)      Melarutkan makanan secara kimia untuk pengecapan rasa
2)      Melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan, juga memberikan kelembaban pada bibir dan lidah sehingga terhindar dari kekeringan.
3)      Amilase pada saliva mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan maltosa.
4)      Zat buangan seperti asam urat dan urea, serta berbagai zat lain seperti obat, virus, dan logam diekskresi ke dalam saliva.
Zat anti bakteri dan antibodi dalam saliva berfungsi untuk membersihkan rongga oral dan membantu memelihara kesehatan oral serta mencegah kerusakan gigi. (Sloane, 2003 ; 283)

  1. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (esofagus). Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. (Syaifuddin, 1997; 76)
Proses menelan (deglutisi) menggerakkan makanan dari faring menuju esofagus. Aksi penelanan meliputi tiga fase :
a)      Fase volunter. Lidah menekan palatum keras saat rahang menutup dan mengarahkan bolus ke arah orofaring.
b)      Fase faring. Bolus makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim impuls ke pusat menelan dalam medulla dan batang otak bagian bawah. Reflek yang terjadi adalah penutupan semua lubang kecuali esofagus sehingga makanan bisa masuk.
c)      Fase esofagus. Suatu area sempit otot polos pada ujung bawah esofagus dalam kontraksi tonus yang konstan, berelaksasi setelah melakukan gelombang peristaltik dan memungkinkan makanan terdorong ke lambung. (Sloane, 2003 ; 285)

  1. Esofagus
Esofagus adalah sebuah tabung berotot yang panjangnya 20-25 cm, diatas mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak lambung bawah. (Pearce, 1999 ; 182). Fungsi esofagus menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui gerak peristaltis. Mukosa esofagus memproduksi sejumlah besar mukus. Untuk melumasi dan melindungi esofagus. Esofagus tidak memproduksi enzim pencernaan. (Sloane, 2003 ; 285)

  1. Lambung
Lambung adalah organ berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen di bawah diafragma. Regia-regia lambung terdiri dari:
a.       Bagian jantung lambung adalah area disekitar pertemuan esofagus dan lambung (pertemuan gastroesofagus).
b.      Fundus lambung adalah bagian yang menonjol ke sisi kiri atas mulut esofagus.
c.       Badan lambung adalah bagian yang terdilatasi dibawah fudus membentuk 2/3 bagian lambung.
d.      Pilorus lambung menyempit diujung bawah lambung dan membuka keduo denum.

Fungsi lambung :
a.       Penyimpanan makanan
b.      Produksi kimus. Aktivitas lambung mengakibatkan terbentuknya kimus (massa homogen setengah cair, berkadar asam tinggi yang berasal dari bolus) dan mendorongnya ke dalam duodenum.
c.       Digesti protein
d.      Produksi mukus
e.       Produksi faktor intrinsik
-         Faktor intrinsik adalah glikoprotein yang disekresi sel parietal
-         Vitamin B12, didapat dari makanan yang dicerna dilambung terikat pada faktor intrinsik
f.        Absorpsi

  1. Usus Halus
Usus halus panjangnya 22 ft dan diameternya 1 inci. Usus halus terdiri atas tiga bagian:
a.       Duodenum dimulai pada katup pyloric pada perut dan panjangnya sekitar 25 cm (10 inci) sampai bersatu pada yeyenum.
b.      Yeyenum, panjangnya 2,5 m (8 ft) dan terletak pada pertengahan bagian usus halus sampai ke ileum.
c.       Ileum panjangnya 3,6 m (12 ft) ini adalah bagian terakhir. Ileum menyatu dengan kolon pada katup ileocecal. Katup ini mengontrol aliran menuju usus besar dan mencegah refluk kembali ke usus halus.
Empat lapisan yang melindungi usus halus:
1)      Tunica serosa
2)      Tunica muscularis
3)      Tela submucosa
4)      Tunica mucosa
(Black Joyce, 1997 ; 1690)

Adapun fungsi usus halus adalah sebagai berikut :
a.       Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe.
b.      Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c.       Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida
d.      Usus halus secara selektif mengabsorpsi produk digesti.

Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan, yaitu :
a)      Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik
b)      Eripsin, menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino.
(Syaifuddin, 1997 ; 79)

  1. Pankreas
Pankreas adalah kelenjar majemuk bertandan strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah, panjangnya + 15 cm, mulai dari duodenum sampai limfa. Terdiri atas tiga bagian; kepala pankreas, badan pankreas dan ekor pankreas. (Pearce, 1969 ; 207)
Fungsi pankreas adalah sebagai berikut :
a.       Fungsi eksokrin
b.      Fungsi endokrin
c.       Fungsi sekresi eksternal
d.      Fungsi sekresi internal
(Syafuddin, 1997 ; 84)

  1. Usus Besar
Panjang usus besar + 180 cm. Memiliki vili, tidak memiliki plicae circulares (lipatan-lipatan sirkular) dan diameternya lebih besar, panjangnya lebih pendek, dan daya regangnya lebih besar dibandingkan usus halus.
(Tambayong, 2001 ; 66)
Lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar ; selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang dan jaringan ikat. (Syaifuddin, 1997 ; 80)
Bagian-bagian usus besar :
a.       Sekum Adalah kantong tertutup yang menggantung dibawah area katup ileosekal. Apendiks vermiform, suatu tabung buntu yang sempit berisi jaringan limfoid, menonjol dari ujung sekum.
b.      Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rektum. Kolon memiliki tiga divisi;
1)      Kolon asendens, merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.
2)      Kolon transversum, merentang menyilang abdomen dibawah hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar kebawah pada fleksura splenik.
3)      Kolon desendens, merentang kebawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rektum.
c.       Rektum
Rektum adalah bagian saluran pencernaan dengan panjang 12-13 cm. rektum bermula pada pertengahan sakrum dan berakhir pada kanalis analis
Fungsi usus besar :
1)       Usus besar mengabsorbsi 80 % - 90 % air dan elektrolit.
2)       Usus besar hanya memproduksi mukus.
3)       Sejumlah bakteri dalam kolon mampu mencerna sejumlah kecil selulosa dan memproduksi sedikit kalori nutrien bagi tubuh dalam setiap hari.
4)       Usus besar mengekresikan zat sisa dalam bentuk feces.
(Sloane, 2003 ; 295)

B.     Konsep Dasar Penyakit
1.      Definisi
Ada beberapa definisi thypoid fever menurut beberapa literatur, antara lain:
a.       Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran. (Ngastiyah, 1997 ; 155)
b.      Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 1 minggu dan terdapat gangguan kesadaran. (Suryadi, 2001 ;281)
c.       Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan pencernaan (Nursalam, 2000 ; 152)
d.      Tifus abdominalis (demam thypoid) adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang diawali diselaput lendir usus dan jika tidak di obati secara progresif menyerbu jaringan diseluruh tubuh. (Tambayong, 2001 ; 143)
e.       Typhoid fever, also known as enteric fever, is an illness caused by the bacterium Salmonella Typhi. Common worldwide, it is transmitted by ingestion of food or  water contaminated with feces from an infected person. The bacteria then multiply in the blood stream of the infected person and are absorbed into the digestive tract and eliminated with the waste. 
Thypoid fever sering dikenal sebagai demam tifus, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Secara umum, penyakit ini ditularkan lewat konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi dengan kotoran dari orang yang terinfeksi. Bakteri kemudian memperbanyak diri di dalam aliran darah orang yang terinfeksi dan diserap ke dalam saluran pencernaan dan ikut tereliminasi bersama kotoran. (www.wikipedia.org, 2005)
f.        Typhoid fever is a life-threatening illness caused by the bacterium Salmonella Typhi.
Thypoid fever adalah penyakit yang mengancam kehidupan disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. (www.cdc.gov, 2005)
g.       Typhpoid fever is an acute illness associated with fever caused by the Salmonellae Typhi bacteria. The bacteria is deposited in water or food by a human carrier, and is then spread to other people in the area.
Thypoid fever merupakan penyakit akut yang berhubungan dengan demam disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Bakteri ini tertumpuk di air dan makanan oleh individu pembawa (carrier) dan disebarkan ke orang lain di area tersebut. (www.medicinenet, 2006)
h.       Typhoid fever is a severe infection caused by a bacterium, Salmonella Typhi. S. Typhi is in the same family of bacteria as the type spread by chicken and eggs, commonly known as salmonella poisoning or food poisoning. S. Typhi bacteria do not have vomiting and diarrhea as the most prominent symptoms of their presence in humans.
Thypoid fever merupakan infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. S. Typhi masih sama famili bakterinya dengan tipe bakteri yang menyebar pada ayam dan telur secara umum diketahui sebagai racun Salmonella atau racun makanan. Bakteri Salmonella Typhi tidak menyebabkan muntah dan diare sebagai gejala utama penularan penyakit ini pada manusia. (www.healthatoz, 2002)
i.         Typhoid fever is an infectious feverish disease with severe symptoms in the digestive system in the second phase of  the illness.
Thypoid Fever merupakan sebuah penyakit demam akibat infeksi dengan gejala berat pada system pencernaan pada fase kedua penyakit ini. (www.netdoctor.co.uk, 2006)
j.        Typhoid fever is a bacterial infection characterized by diarrhea, systemic disease, and a rash- most commonly caused by the bacteria Salmonella Typhi.
Demam typoid adalah infeksi bakteri dengan ciri-ciri diare, penyakit sistemik, dan jamur yang pada umumnya disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. (www.nlm.nih.gov, 2006)
k.      Demam tipoid adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. (www.medicastore, 2004)
l.         Tifus Abdominalis adalah suatu penyakit peradangan pada usus yang disebabkan oleh infeksi bakteria. (www.google.com, 2007)
m.     Tifus Abdominalis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh makanan dan minuman yang tercemar. (www.keluargasehat.com, 2004)
Terdapat tiga jenis Tifus:
1.      Tifus endemik ( epidemic typhus ), juga dikenali sebagai tifus bawaan kutu louse.
2.      Tifus endemik, juga dikenali sebagai tifus bawaan kutu dan tifus Murine ( murine typhus ).
3.      Tifus scrub, juga dikenali sebagai tifus bawaan ( chigger )
(www.ms.wikipedia.org, 2001)
Jadi kesimpulan dari pengertian  thypoid fever di atas adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri salmonella thyposa yang mengenai sistem pencernaan khususnya usus halus dengan gejala demam lebih dari 1 minggu, menyebabkan gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran.

2.      Etiologi
Penyebab tifus abdominalis adalah bakteri salmonella thypi yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar dan tidak berspora.
b.      Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen, yaitu antigen O (somatik yang terdiri dari zat kompleks lipopolisakarida), antigen H flagella dan antigen V1. (Ngastiyah, 1997 ; 155)
Dalam serum pasien terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. (Nursalam, 2000 ; 152)
Kuman salmonella thypi memasuki tubuh melalui mulut dengan perantaraan makanan dan minuman yang telah terkotaminasi. Singkatnya kuman ini terdapat dalam tinja, kemih atau darah. Masa inkubasinya sekitar 10 hari.
Penyakit tifus abdominalis sangat cepat penularannya yaitu melalui kontak dengan seseorang atau hewan yang terinfeksi. Pembuangan air kotoran yang tidak memenuhi syarat dan kondisi saniter yang tidak sehat menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit ini.

3.      Patofisiologi
-         Kuman masuk melalui mulut. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus, ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk ke peredaran darah (bakterimia primer) dan mencapai sel-sel retikuloendotelial, hati, limfa, dan organ-organ lainnya.
-         Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikulo endoteleal melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh terutama limfa, usus dan kandung empedu.
-         Pada minggu pertama sakit, terjadi hiperplasia plaks peyer. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks peyer. Pada minggu ke empat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar kelenjar-kelenjar mesentrial dan limfa membesar.
-         Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus.

4.      Manifestasi Klinis
a.       Nyeri kepala, lemah lesu.
b.      Demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung selama tiga minggu. Minggu pertama peningkatan suhu tubuh berfluktuasi. Biasanya suhu tubuh meningkat pada malam hari dan menurun pada pagi hari. Pada minggu kedua suhu tubuh terus meningkat dan pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur turun dan kembali normal.
c.       Gangguan pada saluran cerna; halitosis, bibir kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi selaput putih kotor, mual, tidak ada nafsu makan, hepatomegali, spleenomegali yang disertai nyeri pada perabaan.
d.      Gangguan kesadaran; penurunan kesadaran (apatis, somnolen)
e.       Bintik-bintik kemerahan pada kulit.
f.        Epistaksis
(Suriadi, 2001 ; 283)
Manifestasi klinis tifus abdominalis :
a.       Demam panas makin lama makin tinggi. Selama panas tinggi penderita sering mengigau.
b.      Kepala terasa sakit.
c.       Menggigil.
d.      Berkeringat.
e.       Letih, lemah
f.        Tidak nafsu makan dan berat badan menurun
g.       Peradangan pada cabang tenggorokan.
h.       Mual, muntah.
i.         Sakit perut mendadak
j.        Terkesan acuh tak acuh bahkan bengong.
k.      Tidur pasif.

Signs and Symptoms
a.      Severe headache
b.      Fever
c.       Loss of  Appetite
d.      General discomfort, uneasiness, or ill feeling (malaise)
e.       Rash (rose spots) appearing on the lower chest and abdomen during the second week of the fever
f.        Abdominal tendernees
g.      Constipation, then diarrhea
h.      Bloody stools
i.        Slow, sluggish, lethargic
j.        Fatigue
k.      Weakness
l.        Nosebleed
m.    Chills
n.      Delirium
o.      Confusion
p.      Agitation
q.      Fluctuating mood
r.       Difficulty paying attention (attention deficit)
s.       Hallucinations

Tanda dan Gejala
a.       Sakit kepala berat
b.      Demam
c.       Kurang nafsu makan
d.      Ketidaknyamanan umum/ perasaan demam
e.       Terlihat bintik- bintik merah pada dada bawah dan abdomen selama dua minggu demam
f.        Ketegangan abdomen
g.       Konstipasi kemudian diare
h.       Melena
i.         Lambat, malas, dan letargi
j.        Fatigue
k.      Kelemahan
l.         Epistaksis
m.     Kedinginan
n.       Delirium
o.      Bingung
p.      Agitasi
q.      Perubahan mood
r.        Kesulitan dalam berkonsentrasi (kurang konsentrasi)
s.       Halusinasi

5.      Pemeriksaan Diagnostik
a.       Pemeriksaan darah tepi : leukopenia, limpositosis, aneosinofilia, anemia dan trombositopenia.
b.      Pemeriksaan sum-sum tulang : menunjukkan gambaran hiperaktif sum-sum tulang.
c.       Biarkan empedu : terdapat basil salmonella thyposa pada urine dan tinja. Jika pada pemeriksaan selam dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil salmonella typhosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan betul-betul sembuh.
d.      Pemeriksaan widal : didapatkan titer terhadap antigen O adalah 1/200 atau lebih sedangkan titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk menegakkan diagnosis karena titer H dapat tetap tinggi setelah dilakukan imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh.
(Suriadi, 2001 : 283)
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biakan darah, tinja, air kemih, atau gangguan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya. (www.medicastore.com, 2004)

6.      Komplikasi
a.       Perdarahan usus. Sekitar 2% mengalami perdarahan hebat, biasanya perdarahan terjadi pada minggu ke-3
b.      Perforasi usus. Terjadi pada 1-2% penderita dan menyebabkan nyeri perut yang hebat karena isi usus menginfeksi rongga perut (peritonitis)
c.       Pneumonia bisa terjadi pada minggu ke-2 atau ke-3 dan biasanya terjadi akibat infeksi pneumokokus (meskipun bakteri tipoid juga bisa menyebabkan pneumonia).
d.      Infeksi kandung kemih dan hati.
e.       Infeksi darah (bakterimia), kadang menyebabkan infeksi tulang (osteomielitis), endokarditis, meningitis, glomerulinitis atau infeksi saluran kemih kelamin.

7.      Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien dengan demam tipoid antara lain :
a.       Isolasi, disinfeksi pakaian dan ekskreta.
b.      Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah, anoreksia dan lain-lain.
c.       Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu tubuh normal kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk; jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan.
d.      Diit. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas.
e.       Obat pilihan ialah kloramfenikol, kecuali jika pasien tidak serasi dapat diberikan obat lainnya seperti kotrimoksazol.
f.        Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila terjadi dehidrasi dan asidosis diberikan cairan secara intravena dan sebagainya.
(Ngastiyah, 1997 : 158)

8.      Pencegahan
Untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
a.       Saat merawat penderita, baik di rumah maupun rumah sakit, harus lebih seksama dan ekstra hati-hati kala membersihkan tubuhnya maupun benda-benda perlengkapannya, terutama yang mungkin tercemar tinjanya. Jangan lupa, selalu mencuci bersih-bersih tangan dengan sabun atau cairan antiseptik setelah mencebokinya.
b.      Jangan pernah ijinkan anak duduk atau main-main di lantai kamar mandi, karena sisa kotoran yang mungkin tercecer di lantai kamar mandi dapat menularkan penyakit.
c.       Ajarkan cara cebok yang baik dan benar pada anak yang sudah agak besar maupun pengasuhnya.
d.      Selalu cuci tangan dengan sabun setiap kali bersentuhan dengan penderita
e.       Saat menyiapkan makanan dan minuman, jangan gunakan tangan secara langsung tetapi pakailah alat bantu semisal sendok, garpu atau penjepit makanan.
f.        Kala hendak sekolah, bekali makanan lengkap dengan sendok garpu dari rumah yang lebih terjaga kebersihannya ketimbang jajan sembarangan.
g.       Hindari atau minimal waspadai warung makanan.
h.       Tanamkan kebiasaan hidup bersih pada anak dan pengasuhnya.
i.         Gunakan air yang mengalir dari kran untuk mencuci tangan, bukan dari ember atau bak penampung yang jarang dikuras atau dicuci.
j.        Vaksin tifus peroral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%. Vaksin ini hanya diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh bakteri Salmonella typhi dan orang-orang yang memiliki resiko tinggi.

C.     Konsep Dasar Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah
1.      Fisik dan motorik
a.   Mulai bertumbuh sedikitnya 5 cm setahun.
b.  Berat badan: 17,7 – 30 kg, tinggi badan 111,8 – 129,7 cm.
c.   Gigi insisi maksilar dan insisi mandibular lateral muncul.
d.  Lebih waspada pada pendekatan penampilan baru.
e.   Mengulangi kinerja untuk memahirkan.
f.    Rahang mulai lebar untuk mengakomodasi gigi permanen.
2.      Mental
a.       Memperlihatkan bahwa bagian tertentu hilang dari gambar.
b.      Dapat meniru gambar permata.
c.       Ulangi tiga langkah ke belakang.
d.      Mengulang konsep waktu; membaca jam biasa atau jam tangan dengan  benar sampai seperempat jam terdekat; menggunakan jam untuk tujuan praktis.
e.       Masuk kelas dua.
f.        Lebih mekanis dalam membaca; sering tidak berhenti pada akhir kalimat, meloncati kata seperti ia, sebuah.
3.      Adaptif
a.       Menggunakan pisau meja untuk memotong daging; memerlukan         bantuan dengan belajar atau bagian sulit.
b.      Menyikat dan menyisir rambut dengan pantas tanpa bantuan.
c.       Mungkin mencuri.
d.      Menyukai dan membantu membuat pilihan.
e.       Penolakan berkurang dan keras kepala.
4.      Personal - sosial
a.       Menjadi anggota sejati dari kelompok keluarga.
b.      Mengambil bagian dalam kelompok bermain.
c.       Anak laki-laki lebih suka dengan anak laki-laki; dan anak perempuan bermain dengan anak perempuan.
d.      Banyak menghabiskan waktu sendiri; tidak memerlukan banyak teman.

D.    Konsep Dasar Proses Keperawatan
Menurut Doenges, et al (2000) dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Thypoid Fever menggunakan lima tahap proses keperawatan, yang meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1.      Pengkajian
Langkah awal dari proses keperawatan adalah pengkajian yang sistematis, kontinyu, valid, dan diperoleh data klien dari data klien hasil wawancara dan observasi (Taylor Carol, 1997)
Adapun hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan Thypoid Fever menurut Doenges, et al (2000; 481) adalah sebagai berikut:
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala :
1)      Kelemahan
2)      Kelelahan
3)      Malaise
4)      Cepat lelah
5)      Pembatasan aktivitas / kerja sampai dengan efek proses penyakit.
b.      Sirkulasi
Tanda :
1)      Takikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi)
2)      Tekanan darah hipotensi
3)      Kulit atau membran mukosa: turgor buruk, kulit kering, lidah kotor, bibir pecah-pecah.
c.       Integritas ego
Gejala:
1)      Ansietas, ketakutan, emosi kesal.
2)      Faktor stress
 Tanda:
  Menolak, perhatian menyempit, depresi
d.      Eliminasi
Gejala :
1)      Tekstur feses bervariasi dari bentuk keras sampai lunak bahkan berair.
2)      Defekasi berdarah
3)      Perdarahan perrektal.
Tanda :
1)      Jika konstipasi maka bising usus menurun bahkan tidak ada, akan tetapi terjadi diare maka bising usus akan meningkat.
2)      Oliguri.
e.       Makanan/cairan
Gejala :
1)      Anoreksia, mual/muntah
2)      Penurunan berat badan
3)      Lidah kotor
Tanda :
1)      Penurunan lemak subkutan / masa otot
2)      Kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk
f.        Higiene
Tanda
1. Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri
2. Bau badan
g.       Nyeri/ Kenyamanan
Gejala:
1. Nyeri/ nyeri tekan pada kuadran kiri bawah.
2.Titik nyeri berpindah, nyeri tekan (artritis).
3. Nyeri mata.
Tanda:
1. Nyeri tekan abdomen/ distensi.
h.       Keamanan
Gejala:
1. Artritis.
2. Peningkatan suhu tubuh 39 - 40oC.
3. Penglihatan kabur.
4.   Alergi terhadap makanan atau produk susu (mengeluarkan histamin ke dalam usus dan mempunyai efek inflamasi).
i.         Seksualitas
Gejala:
                  Frekuensi menurun/menghindari aktivitas seksual.
j.        Interksi Sosial
Gejala:
1.      Masalah hubungan/ peran sehubungan dengan kondisi.
2.      Ketidakmampuan aktif dalam sosial.
3.      Penyuluhan/pembelajaran.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah. (Nursalam, 2001; 52) dikutip dari (Carpenito, 2000)
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan Thypoid Fever adalah sebagai berikut :
a.       Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
b.      Konstipasi / diare berhubungan dengan perubahan proses perencanaan, penurunan aktivitas fisik.
c.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan dan mual.
d.      Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan melalui rute normal (diare dan muntah).
e.       Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan b.d kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat.
(Doenges, et al, 2000 ; 471)

3. Perencanaan Keperawatan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan. Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, dan mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi.
(Nursalam, 2001: 51 dikutip dari layer, taptich, and Bernocchi-losey, 1996)
Tahapan dalam perencanaan ini meliputi : Menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan pendokumentasian. (Nursalam, 2001: 52)
Untuk menentukan prioritas masalah penulis mengambil gambaran pada hirarki Maslow dan hirarki Kalish (Nursalam, 2001: 53 dikutip dari lyer, et al, 1996). Hirarki Maslow yang menjelaskan kebutuhan manusia dibagi dalam lima tahap: (1) Fisiologis; (2) Rasa aman dan nyaman; (3) Sosial; (4) Harga diri; (5) Aktualisasi diri. (Nursalam, 2001: 52)
Adapun perencanaan berdasarkan masing-masing diagnosa keperawatan menurut Doenges, et al (2000) adalah:
a.       Hipertemi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan                       :  Hipertemi berkurang atau hilang
Kriteria hasil              :  - Suhu tubuh dalam batas normal (36 – 370C).
                        - Bebas dari kedinginan
                  Rencana tindakan      : 
                  Mandiri
1)      Pantau suhu klien (derajat dan pola), perhatikan menggigil/diaforesis.
R    :  Suhu 37,9°C atau lebih menunjukkan proses infeksi. Pola demam dapat membantu dalam diagnosis, misalnya tifoid; demam remiten (bervariasi).
2)      Pantau suhu lingkungan
R    :  Suhu lingkungan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
3)      Berikan kompres mandi hangat, hindari penggunaan alkohol.
R    :  Dapat membantu mengurangi demam. Penggunaan alkohol mungkin dapat menyebabkan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual dan dapat mengeringkan kulit.
                  Kolaborasi
4)      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik
R    :  Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
                                   
b.      Konstipasi / diare berhubungan dengan perubahan proses pencernaan, penurunan aktivitas fisik.
Tujuan                       :  Pola BAB kembali normal
Kriteria hasil              :  - Klien dapat BAB/frekuensi dalam batas normal (1 x/ hari)
-   Konsistensi feces lunak
-   Peristaltik usus kembali normal (5-15 x/menit)
                  Rencana tindakan      : 
                  Mandiri
1)      Auskultasi bunyi usus
R    :  Bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi.
2)      Dorong masukan cairan 2.500-3.000 cc/hari.
R    :  Membantu dalam memperbaiki konsistensi feces bila konstipasi. Akan membantu mempertahankan status hidrasi pada diare.
3)      Anjurkan mobilisasi secara bertahap.
R    :  Kehilangan tonus muskuler akan mengurangi peristaltik usus atau dapat merusak kontrol sfingter rektal.  
4)      Anjurkan mengkonsumsi makanan dengan kadar serat tinggi, seperti buah-buahan (pepaya) dan pudding.
R    :  Meningkatkan konsistensi feses dan pengeluaran feses.
Kolaborasi
5)      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pelunak feses, seperti: Supositorio saat konstipasi dan antikolinergik seperti : belladonna ketika diare.
R    :  -  Supositoria dapat meningkatkan regulitas dengan meningkatkan serta atau meningkatkan konstipasi feses.
         -  Belladona menurunkan motilitas/peristaltik dan menurunkan sekresi disgetif untuk menghilangkan kram dan diare.

c.       Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan dan mual.
Tujuan                       :  Nutrisi terpenuhi. 
Kriteria hasil              :  - Berat badan mengalami peningkatan atau stabil.
-   Tidak ditemukan tanda-tanda malnutrisi.
                  Rencana tindakan      : 
                  Mandiri
1)      Timbang berat badan setiap hari bila kondisi klien memungkinkan.
R    :  Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/keefektifan terapi.  
2)      Berikan makanan sedikit dan sering.
R    :  Memaksimalkan intake nutrisi, mencegah mual dan mengurangi iritasi dinding lambung.  
3)      Hindari makanan yang merangsang, seperti : pedas dan asam serta dingin.
R    :  Makanan yang merangsang dan dingin dapat menimbulkan  mual.  

4)      Lakukan kebersihan mulut
R    :  Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makan
5)       Jelaskan pentingnya nutrisi untuk kesembuhan
R    :  Pengetahuan bertambah sehingga termotivasi untuk makan  
6)      Kaji pola makan (pola makan klien di rumah, makanan yang disukai dan tidak disukai)
R    :  Mengidentifikasi pola yang memerlukan perubahan dan sebagai dasar mengevaluasi program diet.   
7)      Anjurkan klien mengkonsumsi makanan berserat seperti pepaya, pudding dan lain-lain.
R    :  Serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal serta dengan demikian dapat menimbulkan bulk, yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi.
Kolaborasi   
8)      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetika, seperti : gestamag syrup.
R    :  Antiemetika untuk mencegah mual dan muntah.   

d.      Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan rute normal (diare dan muntah).
Tujuan                       :  Kekurangan volume cairan tidak terjadi 
Kriteria hasil              :  - Tanda-tanda vital dalam batas normal 
-   Intake dan output seimbang
-   Konsistensi urine normal (1 cc/kg BB/jam)
-   Turgor kulit baik
                  Rencana tindakan      : 
                  Mandiri
1)      Kaji tanda-tanda vital
R    :  Hipotensi, takikardi dan demam dapat menunjukkan respon terhadap kehilangan cairan.   
2)      Observasi terhadap turgor kulit
R    :  Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan / dehidrasi.   
3)      Ukur intake dan output
R    :  Memberikan informasi sebagai pedoman untuk penggantian cairan.
Kolaborasi
4)      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan parenteral.
R    :  Untuk mengganti cairan yang hilang.   

e.       Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan b.d kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat
Tujuan                :   Mengungkapkan pemahamannya tentang kondisi/ proses dan perawatan dari penyakit tersebut.
Kriteria Hasil      :   Mengindentifikasi hubungan antara tanda-tanda/ gejala-gejala pada proses penyakit dan hubungan gejala-gejala dengan faktor penyebab.
                            Dengan tepat menunjukkan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan suatu tindakan.
                            Memulai perubahan gaya hidup yang perlu dan ikut serta dalam aturan perawatan.
Rencana tindakan:
Mandiri :
1)      Tentukan persepsi pasien tantang proses panyakit.
R:   Membuat pengatahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu
2)      Kaji ulang proses penyakit, penyebab atau efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung
R:   Pengetahuan dasar yang akurat memberikan kesempatan pasien untuk membuat keputusan informasi atau pilihan tentang masa depan dan kontrol penyakit kronis.
3)      Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, dan kemungkinan efek samping
R:   Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerja sama dalam program
4)      Tekankan pentingnya perawatan kulit, misalnya tehnik cuci tangan yang baik dan perawatan perineal yang baik.
R:   Menurunkan penyebaran bakteri dan resiko iritasi kulit atau kerusakan, infeksi.

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001: 63 dikutip dari lyer et al, 1996)
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu : persiapan, perencanaan dan dokumentasi (Nursalam, 2001: 63)
a.       Fase persiapan, meliputi :
1)      Review tindakan keperawatan
2)      Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
3)      Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul
4)      Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan
5)      Persiapan lingkungan yang kondusif
6)      Mengidentifikasi aspek hukum dan etik
b.      Fase intervensi :
1)      Independen : Tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter atau tim kesehatan lain.
2)      Interdependen : Tindakan perawat yang melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain (gizi, dokter, laboratorium dll)
3)      Dependen : Berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan di mana tindakan medis dilaksanakan.
c.       Fase dokumentasi
Merupakan suatu pencatatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah dilaksanakan yang terdiri dari tiga tipe yaitu :
1)      Sources Oriented Records (SOR)
2)      Problem Oriented Records (POR)
3)      Computer Assisted Records (CAR)

5.      Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan.
(Nursalam, 2001: 71)
Menurut Griffith dan Christensen evaluasi sebagai sesuatu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematik pada status kesehatan klien. Dengan mengukur perkembangan kilen dalam mencapai suatu tujuan, maka perawat perlu menentukan efektifitas tindakan keperawatan.
 (Nursalam, 2001: 71)
Ada 2 komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu :
a.       Proses (Formatif)
Adalah evaluasi yang dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan.
b.      Hasil (Sumatif )
Adalah evaluasi yang dapat dilihat pada perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir tindakan perawatan klien.  
(Nursalam, 2001: 75)
Adapun evaluasi yang diperoleh berdasarkan hasil yang diharapkan pada klien dengan Thypoid Fever, menurut Doenges, et al (2000) adalah sebagai berikut :
a.       Hipertermi dapat teratasi
b.      Konstipasi atau diare dapat teratasi
c.       Nutrisi terpenuhi
d.      Kekurangan volume cairan tidak terjadi.
e.       Pengetahuan bertambah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar