Kamis, 13 Januari 2011

Asuhan Keperawatan Decompensasio Cordis (Gagal Jantung)



A.     Konsep Dasar
Jantung merupakan struktur kompleks yang terdiri dari jaringan fibrosa, otot-otot jantung dan jaringan konduksi listrik.jantung mempunyai fungsi utama untuk memompakan darah. Untuk memenuhi kebutuhan metabolisme badan, jantung yang bertindak sebagai pompa sentral akan memompa darah untuk menghantarkan bahan-bahan metabolisme yang diperlukan ke seluruh jaringan tubuh dan mengangkut sisa-sisa metabolisme untuk dikeluarkan dari tubuh. Kebutuhan metabolisme badan selalu berubah-ubah, bervariasi dari keadaan metabolisme basal dalam keadaan istirahat sampai kepada kebutuhan metabolisme untuk gerak badan yang berat.
Hal ini dapat dilakukan dengan baik bila kemampuan otot jantung untuk memompa cukup baik. Sistem katupnya sendiri serta irama pemompaan yang baik. Bila ditemukan ketidaknormalan pada salah satu di atas maka akan mempengaruhi efisiensi pemompaan dan kemungkinan dapat menyebabkan kegagalan memompa.
Berkenaan dengan kasus yang penulis bahas yakni asuhan keperawatan pada klien Decompensasio Cordis atau gagal jantung maka dalam landasan teori lebih memfokuskan pada jantung atau yang berkenaan dengan penyakit Decompensasio Cordis itu sendiri.
  1. Defenisi
Beberapa defenisi Decompensasio Cordis atau gagal jantung antara lain :
Keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari definisi ini adalah pertama, definisi gagal jantung adalah relatif terhadap kebutuhan metabolik tubuh dan kedua, penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan.
(Price, Sylvia A, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, 1994 : 583)
Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan disertai peninggian volume diastolic secara abnormal. (Mansjoer  A, dkk; Kapita Selekta Kedokteran, 1994 : 434)
Gagal jantung ialah keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi badan untuk keperluan metabolisme jaringan tubuh pada keadaan tertentu, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi. (Soeparman ; Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 edisi kedua, 1987 : 193)
Gagal jantung adalah keadaan dimana jantung sudah tidak mampu lagi memompa darah sesuai dengan kebutuhan tubuh. (Long, Barbara C.; Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan 2, 1996 ; 579)

  1. Anatomi fisiologi
Jantung adalah organ berupa otot, berbentuk kerucut, berongga dan dengan basisnya di atas dan puncaknya di bawah, apex (puncak) miring ke sebelah kiri. Berat jantung kira-kira 300 gram. Otot jantung merupakan jaringan istimewa karena dilihat dari bentuk dan susunannya sama dengan otot serat lintang, tetapi cara kerjanya menyerupai otot polos yaitu di luar kemauan kita (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom). (Pearce, Evelyn C, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, 2000; Syaifudin, Anatomi dan Fisiologi Untuk Siswa Perawat, 1992)
a.       Kedudukan jantung
Jantung berada dalam thorax antara kedua paru-paru dan di belakang sternum dan lebih menghadap ke kiri daripada ke kanan, tepatnya di dalam rongga dada sebelah depan. Sebelah kiri bawah dari pertengahan rongga dada, di atas diafragma, pangkalnya terdapat di belakang kiri antara kosta V dan VII dua jari di bawah papilla mammae. Pada tempat ini teraba adanya pukulan jantung yang disebut iktus kordis.
(Syaifudin, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, 1992)
b.      Lapisan-lapisan jantung
Lapisan-lapisan jantung terdiri atas :
1)      Endokardium; merupakan lapisan jantung yang terdapat di sebelah dalam sekali yang terdiri dari jaringan endotel atau selaput lendir yang melapisi permukaan rongga jantung.
2)      Miokardium; merupakan lapisan inti dari jantung yang terdiri dari otot-otot jantung, otot jantung ini membentuk bundalan-bundalan otot yaitu bundalan otot atria yang membentuk serambi atau aurikula kordis, bundalan ventrikuler yang membentuk bilik jantung. Bundalan otot atrioventrikuler yang merupakan dinding pemisah antara serambi dan bilik jantung.
3)      Pericardium; lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput pembungkus terdiri dari 2 lapisan yaitu : lapisan parietal dan visceral yang bertemu di pangkal jantung membentuk katup jantung. Di antara dua lapisan jantung ini terdapat lendir sebagai pelican untuk menjaga agar pergesekan antara pericardium pleura tidak menimbulkan gangguan terhadap jantung.
(Syaifudin, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, 1992)


c.       Siklus jantung
Jantung adalah alat pompa dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam jantung selama peredaran darah disebut siklus jantung. Gerakan jantung berasal dari nodus sinus atrial. Kemudian kedua atrium berkontraksi. Gelombang kontraksi ini bergerak melalui berkas his dan kemudian ventrikel berkontraksi. Gerakan jantung terdiri atas dua jenis yaitu kontraksi atau systole dan pengendoran atau diastole. Kontraksi dari kedua atrium terjadi serentak dan disebut systole atrial, pengendorannya adalah diastole atrial. Serupa dengan itu kontraksi dan pengendoran ventrikel disebut juga systole dan diastole ventrikuler. Lama kontraksi ventrikel adalah 0,3 detik dan tahap pengendorannya selama 0,5 detik. Dengan cara ini jantung berdenyut terus menerus, siang malam selama hidupnya. Dan otot jantung mendapat istirahat selama diastole ventrikuler.
Kontraksi kedua atrium pendek, sedangkan kontraksi ventrikel lebih lama dan lebih kuat. Dan yang dari ventrikel kiri adalah yang terkuat karena mendorong darah ke seluruh tubuh untuk mempertahankan tekanan darah arteri sistemik. Meskipun ventrikel kanan juga memompa volume darah yang sama, tetapi tugasnya mengirimkannya ke sekitar paru-paru dimana tekanannya lebih kuat. (Pearce, Evelyn C, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, 2000)
d.      Bunyi jantung
Selama gerakan jantung dapat terdengar dua macam suara yang disebabkan oleh katup-katup yang menutup secara pasif. Bunyi pertama disebabkan menutupnya katup atroventrikuler dan kontraksi dari ventrikel, bunyi kedua karena menutupnya katup aortic dan pulmoner sesudah kontraksi dari ventrikel. Yang pertama adalah panjang terdengar “lub” dan yang kedua pendek dan tajam terdengar “dub”. Dalam keadaan normal jantung tidak mempunyai bunyi lain, tetapi bila arus darah cepat atau bila ada kelainan pada katup atau salah satu ruangnya, maka dapat terjadi bunyi lain, biasanya disebut “bising”. (Syaifudin, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, 1992)
e.       Daya pompa jantung
Pada orang yang sedang istirahat jantungnya berdebar sekitar 70 kali semenit dan memompa 70 ml setiap denyut. Jumlah darah yang setiap menit dipompa dengan demikian adalah 70 x 70 ml atau sekitar 5 liter. Sewaktu banyak bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 setiap menit dan volume denyut lebih dari 150 ml, yang membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter setiap menit.
Tiap menit sejumlah volume yang tepat sama kembali dari vena ke jantung. Akan tetapi bila pengembalian dari vena tidak seimbang dan ventrikel gagal mengimbanginya dengan daya pompa jantung, maka terjadi payah jantung. Vena-vena besar dekat jantung menjadi membengkak berisi darah, sehingga tekanan dalam vena naik. Dan kalau keadaan in tidak cepat ditangani maka terjadi edema. (Pearce, Evelyn C, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, 2000)
f.        Katup-katup pada jantung
Di dalam jantung terdapat katup-katup yang sangat penting artinya dalam susunan peredaran darah dan pergerakan jantung manusia.
1)      Valvula Trikuspidalis. Terdapat antara atrium dekstra dengan ventrikel dekstra yang terdiri dari 3 katup.
2)      Valvula Bikuspidalis. Terletak antara atrium sinistra dengan ventrikel sinistra yang terdiri dari 2 katup.
3)      Valvula semilunaris arteri pulmonalis. Terletak antara ventrikel dekstra dengan arteri pulmonalis, dimana darah mengalir menuju ke paru-paru.
4)      Valvula semilunaris aorta. Terletak antara ventrikel sinistra dengan aorta dimana darah mengalir menuju ke seluruh tubuh.
g.       Sirkulasi darah
Jantung adalah organ utama sirkulasi darah. Aliran darah dari ventrikel kiri melalui arteri, arteriola dan kapiler kembali ke atrium kanan melalui vena disebut peredaran darah besar atau sirkulasi sistemik. Aliran darah ventrikel kanan melalui paru-paru ke atrium kiri adalah peredaran darah kecil atau sirkulasi pulmonal.
1)      Pembuluh darah pada peredaran darah kecil, terdiri atas :
a)      Arteri pulmonalis, merupakan pembuluh darah yang keluar dari ventrikel dekstra menuju ke paru-paru.
Mempunyai 2 cabang yaitu dekstra dan sinistra untuk paru-paru kanan dan kiri yang banyak mengandung CO2 di dalam darahnya.
b)      Vena pulmonalis, merupakan vena pendek yang membawa darah dari paru-paru masuk ke jantung bagian atrium sinistra. Di dalamnya berisi darah yang banyak mengandung O2.
2)      Pembuluh darah pada peredaran darah besar, terdiri atas :
a)      Aorta, merupakan pembuluh darah arteri yang besar yang keluar dari jantung bagian ventrikel sinistra melalui aorta asendens lalu membelok ke belakang melalui radiks pulmonalis sinistra, turun sepanjang kolumna vertebralis menembus diafragma lalu menurun ke bagian perut.
Jalannya arteri terbagi 3 (tiga) bagian :
(1)   Aorta asendens, aorta yang naik ke atas dengan panjangnya ± 5 cm, cabangnya arteri koronaria masuk ke jantung.
(2)   Arkus aorta, yaitu bagian aorta yang melengkung arah ke kiri, di depan trakea sedikit ke bawah sampai vena  torakalis IV.
Cabang-cabangnya : arteri brakia sefalika atau arteri anomina, arteri subklavia sinistra dan arteri karotis komunis sinistra.
(3)   Aorta desendens, bagian aorta yang menurun mulai dari vertebra torakalis IV sampai vertebra lumbalis IV.
Letaknya :
(a)     Aorta torakalis. Dimulai dari vertebra torakalis IV sampai menembus diafragma.
Percabangannya sampai pada dinding toraks dan alat-alat visceral yang ada di dalam rongga toraks.
(b)     Aorta abdominalis. Pada vertebra torakalis XII terbagi 2 : arteri iliaka komunis dekstra dan arteri iliaka komunis sinistra. Percabangannya sampai pada dinding perut dan alat dalam rongga perut, panggul dan anggota gerak bawah.

Peredaran darah kecil, darah dari jantung ventrikel destra → valvula semilunaris → arteri pulmonalis → paru-paru kiri dan kanan → vena pulmonalis.
Peredaran darah besar, darah dari jantung bagian ventrikel sinistra → valvula semilunaris aorta → aorta → arteri → arteriole → kapiler arteri → kapiler vena → venolus → vena kava → atrium dekstra.
(Syaifudin, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, 1992)
  1. Etiologi
Penyebab terjadinya gagal jantung ialah :
a.       Kegagalan miokard
Yaitu ketidakmampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna. Penyebab kegagalan miokard adaah iskemia miokard, infark miokard, miokarditis, kardiomiopati.
b.      Beban tekanan berlebihan (abnormal pressure overload)
Beban tekanan berlebihan yang dihadapi ventrikel pada waktu kontraksi (sistolik), dalam batas tertentu yang dapat ditanggulangi oleh kemampuan kontraktilitas miokard ventrikel. Beban sistolik yang berlebihan di luar kemampuan ventrikel (sistolik overload) menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah ventrikel atau isi sekuncup. Contoh keadaan ini yaitu : stenosis aorta, hipertensi, koarktasio aorta.
c.       Beban volume yang berlebihan (abnormal volume overload)
Beban isian berlebihan pada waktu diastolic dalam batas tertentu dapat ditampung oleh ventrikek (preload yang meningkat). Jika preload ini berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolik overload) akan menyebabkan volume dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi. Contoh keadaan ini yaitu : insufisiensi aorta, insufisiensi mitral, insufisiensi tricuspid, tranfusi berlebihan/over transfusion, hypervolemia sekunder (gangguan ekskresi cairan), shunt dalam jantung.
d.      Kebutuhan metabolik yang meningkat (increased metabolic demand)
Beban karena kebutuhan metabolik badan yang meningkat akan merangsang jantung bekerja lebih keras untuk menambah sirkulasi, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi badan. Contoh keadaan yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan metabolisme badan yaitu anemia, tirotoksikosis, beri-beri, penyakit paget, fistula arterio-venosus.
e.       Hambatan pengisian ventrikel (ventricular filling disorders)
Hambatan pengisian ventrikel ini karena gangguan aliran masuk ke dalam ventrikel atau pada aliran balik vena, akan menyebabkan output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun. Timbulnya hambatan ini disebabkan : gangguan distensi diastolic misalnya pada perikarditis restriktif, tamponade jantung.
(Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, 2000)  
  1. Klasifikasi
New York Heart Association (NYHA) membuat klasifikasi fungsional gagal jantung dalam 4 kelas yaitu :
a.       Kelas I       :  keluhan timbul pada aktifitas lebih dari sehari-hari.
b.      Kelas II      :  keluhan timbul pada aktifitas sehari-hari.
c.       Kelas III     : keluhan timbul pada aktifitas ringan.
d.      Kelas IV    :  keluhan timbul pada istirahat.
Berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan pemompaan, gagal jantung terbagi atas :
a.       Gagal jantung kiri
b.      Gagal jantung kanan
c.       Gagal jantung kongestif
(Mansjoer Arif, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, 1999)
  1. Patofisiologi
Kelainan intrinsic pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup atau menurunnya curah jantung kiri sehingga meningkatkan volume residu ventrikel. Dengan meningkatnya volume akhir diastolic ventrikel, maka terjadi pula peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri. Derajat peningkatan tekanan tergantung dari kelenturan ventrikel. Dengan meningkatnya tekanan akhir diastolic ventrikel kiri, maka terjadi pula peningkatan tekanan atrium kiri karena atrium dan ventrikel berhubungan langsung selama diastole. Peningkatan tekanan atrium kiri diteruskan ke belakang ke dalam anyaman vaskuler paru-paru, meningkatkan tekanan kapiler dan vena paru-paru. Jika tekanan hidrostatik dari anyaman kapiler paru-paru melebihi tekanan onkotik vaskuler, maka akan terjadi transudasi cairan ke dalam interstitial. Jika kecepatan transudasi cairan melebihi kecepatan drainase limfatik, maka akan terjadi edema interstitial. Peningkatan tekanan lebih lanjut dapat meningkatkan cairan merembes ke dalam alveoli dan terjadilah edema paru-paru dengan segala keluhan dan tanda-tanda akibat adanya tekanan dalam sirkulasi paru yang meninggi. Keadaan yang terakhir ini merupakan hambatan bagi ventrikel kanan yang menjadi pompa darah untuk sirkulasi kecil. Bila beban pada ventrikel kanan tersebut terus bertambah, akan merangsang ventrikel kanan untuk melakukan kompensasi dengan mengalami hypertropi dan dilatasi sampai batas kemampuannya dan bila beban tersebut diatas tetap meninggi maka pada suatu saat tidak teratasi lagi oleh ventrikel kanan, maka terjadilah gagal jantung kanan.
Serentetan kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri juga dapat terjadi pada jantung kanan dimana akhirnya akan terjadi kongesti sistemik dan edema. (Price, Sylvia A, et al, Patofosiologi; Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit 1994)
Kardiak output (curah jantung) yang tidak adekuat memicu beberapa respon kompensasi yang berusaha untuk mempertahankan perfusi organ-organ tubuh yang vital (lihat tabel berikut)

Respon-respon terhadap ketidakadekuatan kardiak output
Respon
Pengaruh awal
Pengaruh akhir
Rangsangan terhadap saraf simpati
Peningkatan kecepatan dan kekuatan kontraksi miokardium, vasokonstriksi perifer -arus darah ke organ-organ vital, peningkatan arus balik vena, peningkatan tekanan darah.
Meningkatnya kebutuhan oksigen untuk miokardium, meregangkan serabut-serabut miokardium di bawah garis kemampuan kontraksi
Pengaktifan sistem renin-angiotensin
Peningkatan reabsorbsi sodium dan air-peningkatan volume darah, vasokonstriksi perifer
Meningkatnya beban jantung
Hypertrofi ventrikuler
Peningkatan kontraktilitas miokardium
Peningkatan kebutuhan oksigen untuk miokardium
      (Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, 1996)

  1. Manifestasi klinis
a.       Pada gagal jantung kiri terdapat gejala :
1)      Badan lemah, cepat lelah, dan berdebar-debar
2)      Anoreksia
3)      Batuk dan keringat dingin
4)      Dyspnoe (dysnoe d’effort)
5)      Orthopnoe
6)      Paroksismal noktural dyspnoe
7)      Ronkhi basah di bagian basal paru
8)      Suara jantung III/bunyi derap S3
9)      Tachycardia
b.      Pada gagal jantung kanan terdapat gejala :
1)      Edema tumit dan tungkai
2)      Pembesaran hati (hepatomegali)
3)      Peningkatan tekanan vena jugularis
4)      Gangguan gastrointestinal : perut kembung, anoreksia, nausea, ascites, dan perasaan tidak enak pada epigastrium
5)      Berat badan bertambah akibat edema tungkai
6)      Irama derap atrium kanan atau murmur
c.       Sedangkan pada gagal jantung kongestif terjadi manifestasi gabungan gagal jantung kiri dan gagal jantung kanan.
(Mansjoer Arif, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, 1999)
  1. Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan radiology
Foto toraks dapat mengarah ke kardiomegali; pembesaran jantung dengan kongestif paru.
b.      Eletrokardiogram (EKG)
EKG dilaksanakan untuk mengetahui ada tidaknya infark miokardial akut, guna mengkaji aritmia dan untuk mengenal respon-respon kompensatori seperti terjadinya hypertropi ventrikel.
c.       Pemeriksaan laboratorium
1)      Darah
Hemoglobin dan eritrosit menurun sedikit karena hemodilusi. Kadar hemoglobin di bawah 5% sewaktu-waktu dapat menimbulkan gagal jantung, setidaknya keadaan anemi akan menyebabkan bertambahnya beben jantung. Jumlah leukosit dapat meninggi; bila sangat meninggi mungkin terdapat superinfeksi, endokarditis atau sepsis yang akan memberatkan jantung. Laju endap darah (LED) biasanya menurun, bila gagal jantung dapat diatasi tapi infeksi atau karditis masih aktif ada maka LED akan meningkat. Kadar natrium dalam darah sedikit menurun walaupun natrium total bertambah. Keadaan asam basa tergantung pada keadaan metabolisme, masukan kalori, keadaan paru, besarnya shunt dan fungsi ginjal.
2)      Urine
Jumlah pengeluaran urine berkurang, berat jenis meninggi, terdapat albuminuria sementara.
d.      Kateterisasi jantung
Biasanya ditemukan tekanan akhir diastolic ventrikel kiri, atrium kiri dan tekanan vena pulmonalis meninggi, sedangkan tekanan atrium kanan baru meninggi pada keadaan lanjut.
(Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, 1996; Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, 1987)                       
  1. Komplikasi
Komplikasi lebih lanjut yang dapat terjadi akibat Decompensasio Cordis yaitu renjatan (shock) kardiogenik, dimana ventrikel kiri sudah tidak mampu berfungsi lagi. Selain itu dapat terjadi gagal nafas total akibat perluasan edema paru yang hebat dan ketidakmampuan compliance maupun recoil paru. (Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, 1987)

  1. Penatalaksanaan
a.       Perawatan
1)      Tirah baring/bedrest
Kerja jantung dalam keadaan decompensasi harus benar-benar dikurangi dengan bederest, mengingat konsumsi oksigen yang relatif meningkat.
2)      Pemberian oksigen
Pemberian oksigen secara rumat biasanya diperlukan 2 liter/menit dalam keadaan sianosis sekali dapat lebih tinggi.
3)      Diet
Umumnya diberikan makanan lunak dengan rendah (pembatasan) garam. Jumlah kalori sesuai kebutuhan, pasien dengan gizi kurang diberi makanan tinggi kalori tinggi protein. Cairan diberikan 80-100 ml/kgBB/hari.
b.      Pengobatan medik
1)      Digitalisasi
Digitalis akan memperbaiki kerja jantung dengan memperlambat dan memperkuat kontraksi jantung serta meninggikan curah jantung.

Dosis digitalis :
a)      Digoksin oral untuk digitalisasi cepat 0,5 – 2 mg dalam 4 – 6 dosis selama 24 jam dan dilanjutkan 2 x 0,5 mg selama 2 – 4 hari.
b)      Cedilanid IV 1,2 – 1, 6 mg dalam 24 jam
Dosis penunjang untuk gagal jantung :
Digoksin 0,25 mg sehari untuk pasien usia lanjut dan gagal ginjal dosis disesuaikan.
Dosis penunjang digoksin untuk fibrilasi atrium 0,25 mg.
2)      Diuretik
Diuresis dapat mengurangi beban awal (preload), tekanan pengisian yang berlebihan dan secara umum untuk mengatasi retensi cairan yang berlebihan. Yang digunakan : furosemid 40 – 80 mg. pemberian dosis penunjang bergantung pada respon, rata-rata 20 mg sehari.
3)      Vasodilator
Obat vasodilator menurunkan tekanan akhir diastolic ventrikel kiri dan menghilangkan bendungan paru serta beban kerja jantung jadi berkurang.
Preparat vasodilator yang digunakan :
a)      Nitrogliserin 0,4 – 0,6 mg sublingual atau 0,2 – 2 mg/kgBB/menit IV
b)      Nitroprusid 0,5 – 1 mg/kgBB/menit IV
4)      Pengobatan penunjang lainnya bersifat simptomatik
a)      Jika terjadi anemia, maka harus ditanggulangi dengan pemberian sulfa ferosus, atau tranfusi darah jika anemia berat
b)      Jika terdapat infeksi sistemik berikan antibiotik
c)      Untuk penderita gagal jantung anak-anak yang gelisah, dapat diberikan penenang; luminal dan morfin dianjurkan terutama pada anak yang gelisah.
(Mansjoer Arif, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, 1999; Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, 1996)
  1. Pencegahan
Pada umumnya Decompensasio Cordis merupakan akibat lanjutan atau komplikasi dari penyakit yang mempengaruhi kerja jantung. Misalnya ketidakpatuhan menjalani pengobatan hipertensi, anemia, tirotoksisosis, dan pengobatan anti gagal jantung, aritmia akut atau endokarditis.
Karena itu setiap penyakit yang berpengaruh langsung pada kerja jantung mestilah secara dini diobati dan lakukan pengobatan tersebut secara teratur.
Selain itu pola perilaku pengkonsumsian makanan yang tidak menunjang kesehatan harus dihindari seperti asupan garam dan gula yang berlebihan, ataupun asupan lemak yang berlebihan yang mengakibatkan atherosclerosis yang pada akhirnya dapat menghambat aliran darah dan mengganggu kerja jantung.
(Mansjoer Arif, Kapita Selekta Kedokteran, 1999; Ganong WF, Buku Ajar Fisiologi Pencegahan, 1999 )
B.     Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan merupakan penerapan dari proses keperawatan yang terdiri dari lima tahapan yaitu pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, implementasi/pelaksanaan dan evaluasi dalam upaya pemecahan masalah dan dilakukan secara sistematis serta berkesinambungan.
Proses keperawatan tersebut juga dilakukan secara komprehensif yang meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan melalui penerapan serangkaian tindakan yang telah direncanakan guna mencapai tujuan keperawatan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.
Mengenai asuhan keperawatan dengan kasus Decompensasio Cordis, berikut akan penulis uraikan tentang teoritis asuhan keperawatan kepada klien dengan Decompensasio Cordis dari pengkajian hingga evaluasi.
Lima tahap proses keperawatan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. Diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenal masalah klien agar memberi arah kepada tindakan keperawatan. Pada tahap ini semua data/informasi tentang klien yang dibutuhkan dikumpulkan dan dianalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan.
Pengumpulan data yang dilakukan berkenaan dengan kasus Decompensasio Cordis adalah meliputi :
a.       Identitas pasien, meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, dan seterusnya.
b.      Riwayat penyakit dahulu
Ditanyakan tentang riwayat penyakit penderita dahulu yang pernah dialaminya berhubungan dengan penyakitnya saat ini.
c.       Riwayat penyakit sekarang
Pengkajian mengenai perjalanan penyakitnya mulai dari pertama sampai sekarang seperti keluhan sesak nafas, yang makin bertambah berat bila beraktifitas, orthopnoe, batuk yang dirasakan mulai awal hingga saat ini. Adakah edema tungkai, hepatomegali, ataupun nafsu makan yang menurun.
d.      Riwayat penyakit keluarga
Dalam membuat riwayat penyakit keluarga perlu membuat genogram yang diambil dari keterangan pasien ataupun keluarga pasien.
e.       Data biologis
Mengkaji pola-pola fungsi kesehatan atau data biologis terutama yang berhubungan dengan penyakit yang diderita oleh pasien tersebut seperti :
1)      Pola nutrisi dan metabolisme
Disini peran perawat untuk mengkaji secara cermat bagaimana pola atau kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan, berapa kali frekuensi makan dalam sehari, adakah mual, muntah, dan anoreksia.
2)      Pola minum
Mengkaji jumlah air minum yang dikonsumsi setiap hari dan perubahan yang terjadi setelah sakit. Pada klien Decompensasio Cordis intake cairan perlu disesuaikan dengan edema yang terjadi.
3)      Pola eliminasi
Dalam pola eliminasi ini ditanyakan bagaimana defekasinya baik warna, bentuk, dan bau feses. Mictienya juga bagaimana apakah lancar atau spontan .
4)      Pola aktivitas dan latihan
Kegiatan sehari-hari pasien sebelum sakit apakah banyak tidur atau aktif sekali sehingga tidak ada waktu untuk istirahat ataupun waktu untuk makan.
5)      Pola tidur dan istirahat
Disini bisa diketahui pola tidur penderita berapa lama istirahat, dan bagaimana pengaruh sesak terhadap tidur klien.
f.        Pemeriksaan fisik
a.       Status kesehatan umum
Bagaimana keadaan umum klien, kesadaran, tekanan darah, peningkatan frekuensi respirasi, frekuensi nadi dan bagaimana suhu tubuh klien. Adanya sesak nafas, orthopnoe, batuk iritasi, hepatomegali, edema tungkai dan penurunan nafsu makan.
b.      Inspeksi
Bagaimana bentuk postur tubuh klien, apakah ada perubahan di bandingkan dengan keadaan normal sebelum terserang penyakit ini. Bagaimana keadaan thorax klien, apakah tampak ictus cordis dan pulsasi jantung, adanya penggunaan otot – otot asesoris pernafasan, respriasi yang dangkal, dan adanya tanda – tanda sianosis pada ekstremitas klien ataupun edema.
c.       Palpasi
Ictus cordis teraba atau tidak bagaimana stem fremitus dan ada pemeriksaan abdomen adanya ascites, pada kuadran kanan atas terdapat  hepatomegali.
d.      Auskultasi
Bagaimana perubahan yang terjadi pada irama jantung dan suara jantung 1 dan 2, yang dijumpai juga suara jantung   3  dan 4          ( Gallop). Pada auskultasi paru – paru terdapat suara tambahan yakni ronchi basah sedangkan pada auskultasi abdomen diperiksa apakah ada peningkatan peristaltik usus.
e.       Perkusi
Pemeriksaan perkusi pada thorax ; adanya dullnes pada ICS  II – V kiri  dan pada abdomen terjadi tympanism  (kembung) .
       
g.          Pemeriksaan penunjang
1)      Pemeriksaan laboratorium
a)      Hemoglobin untuk menentukan anemia atau tidak.
b)      Leukosit dan LED untuk menentukan adanya infeksi.
c)      Urine : apakah berat jenis meninggi  dan  tidaknya  Albuminuria.
1)      Pemeriksan radiologi
Untuk menentukan pembesaran  jantung dan kongesti paru.
2)      Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG)
EKG untuk mengetahui ada tidaknya infark miokardial akut, guna mengkaji aritmia dan untuk mengenal respon kompensatori seperti terjadinya hipertropi ventrikel.
(Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, 2000; Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, 1996; Carpenito, Lynda Juall, Diagnosis Keperawatan : Aplikasi Pada Praktek Klinis, 1998)
2.      Diagnosa  Keperawatan
a.         Kerusakan pertukaran gas ; O2 dan CO2 berhubungan dengan kongesti paru dan terjadinya edema paru.
b.         Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraksi miokard sekunder  terhadap gagal jantung
c.         Perubahan pola pemenuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan anoreksia.
d.         Intoleransi aktivitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktivitas  kehidupan sehari – hari.
e.         Gangguan  pemenuhan kebutuhan tidur berhubungan dengan dyspnoe  noktural.
f.           Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
g.         Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan aliran darah  ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan.
3.      Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan implementasi keperawatan dan aktivitas keperawatan  guna  memberi arah tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien. Dalam perencanaan ini akan dilakukan penentuan prioritas diagnosa keperawatan, penetapan tujuan dengan kriteria hasilnya serta merumuskan rencana implementasi.
Sementara tujuan dirumuskan dengan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Reliable, Timing). Berikut ini adalah perencanaan yang disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang sesuai :
a.       Kerusakan pertukaran gas ; O2 dan CO2 berhubungan dengan kongesti paru dan terjadinya edema paru.
Tujuan :
Pertukaran gas adekuat dalam 3 x  24 jam.
Kriteria  Hasil  :
Sesak nafas berkurang bahkan hilang.
Respirasi dalam batas normal.
Tidak terdapat tanda sianosis.
Rencana Tindakan  :
1).  Kaji pola nafas  dan frekuensi   respirasi.
Rasional :
Untuk mengetahui keadekuatan pertukaran O2  dan CO2 paru jaringan paru.
2).  Tinggikan tempat tidur dengan posisi  fowler.
Rasional   :
Ekspansi paru   lebih baik dapat dicapai pada posisi ini

3). Berikan O2 sesuai kebutuhan
Rasional :
Membantu pemenuhan keperluan O2 dalam  tubuh.
4).  Bimbing klien latihan nafas dalam ; dengan cara menarik nafas dalam  melalui hidung  dan menghembuskan secara perlahan melalui mulut.
Rasional  :
Melatih pola nafas agar pertukaran gas adekuat.
5).  Observasi perubahan respirasi tiap 6 jam.
Rasional  :
Agar dapat dipantau  perubahan respirasi yang terjadi secara kontinyu
6)      kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik.
Rasional  :
Diuretik mengurangi edema jantung dan paru serta dapat memperbaiki  fungsinya
b.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraksi miokard sekunder terhadap gagal jantung
Tujuan :
Kardiak output adekuat dalam 3 x 24 jam.
Kriteria hasil  :
Tanda – tanda vital dalam batas normal
Lemah berkurang, keadaan umum klien membaik.
Kulit perifer terutama ekstremitas hangat.
Rencana Tindakan :
1)      Istirahatkan / bedrest secara  fisik dan mental
Rasional :
Dengan istirahat maka beban volume dan kontraksi jantung tidak berat.
2)      Observasi dan catat tanda – tanda vital tiap 6 jam serta amati tanda – tanda perfusi jaringan.
Rasonal  :
Untuk mengetahui kelainan lanjutan yang terjadi dan sebagai dasar penetapan  selanjutnya.
3)      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian digitalis.
Rasional  :
Obat digitalis diharapkan dapat memperkuat kontraksi miokard
4)      Amati pengaruh negatif pemberian obat digitalis.
Rasional  :
Mencegah alergi ataupun efek samping yang tidak diinginkan.
5)      Berikan diet makanan rendah garam
Rasional  :
Kelebihan garam meningkatkan retensi cairan dan dapat meningkatkan volume vaskuer dan beban kerja jantung.
c.       Perubahan pola pemenuhan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan anoreksia.
Tujuan :
Masukan nutrisi adekuat dalam  2  x 24 jam.
Kriteria hasil   :
Porsi makan habis.
Mual berkurang bahkan hilang.
Tidak terjadi penurunan berat badan.
Rencana  Tindakan  :
1)      Kaji  frekuensi  dan  porsi makan klien
Rasional  :
Mengetahui jumlah frekuensi dan banyaknya porsi makan klien.
2)      Sajikan makanan dalam keadaan hangat, menarik, bervariasi, namun tetap sesuai dengan diet rendah garam.
Rasional  :
Agar  klien dapat berselera makan.
3)      Anjurkan agar tidak mengkonsumsi makan yang terlalu panas, dingin, terlalu pedas, atau terlalu asam.
Rasional   :
Mencegah sekresi asam lambung  yang berlebihan.
4)      Anjurkan klien makan dengan porsi sedikit tapi sering  dan tingkatkan porsi makan secara bertahap.
Rasional  :
Agar pencernaan tidak langsung bekerja terlalu keras dan makanan  yang masuk dapat  ditolerir
5)      Pantau berat badan setiap hari.
Rasional :
Memantau perkembangan berat badan berhubungan dengan status nutrisi.
6)      Kolaborasi dengan dokter dalam mengatasi mual dan  muntah.
Rasional    :
Dengan hilangnya mual dan muntah maka nafsu makan dapat meningkat.
d.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktivitas  kehidupan sehari – hari.
Tujuan   :
Kebutuhan dan pemenuhan O2 seimbang dengan aktifitas, dalam   3 x 24 jam.
Kriteria hasil  :
Mudah lelah dapat berkurang bahkan hilang.
Klien dapat beraktifitas secara  bertahap.
Tanda – tanda vital dalam batas normal.
Rencana   :
1)        Bantu dan bimbing klien dalam pemenuhan kebutuhan ADL.
Rasional :
Dengan bantuan dan bimbingan diharapkan kebutuhan ADL  primer klien dapat terpenuhi .
2)        Tingkatkan aktifitas klien secara bertahap dan sesuai dengan kondisi atau kemampuannya.
Rasional  :
Kemajuan aktifitas bertahap diarahkan melalui toleransi klien, meningkatkan fungsi fisiologis  kerja jantung .
3)      Pantau tanda – tanda vital setelah beraktifitas dan kaji respon abnormal  terhadap peningkatan aktifitas.
Rasional  :
Untuk menilai respon fisiologis dan perubahan yang terjadi setelah melaksanakan aktifitas dan respon abnormal mengindikasikan intoleransi  terhadap peningkatan aktifitas.
4)      Rencanakan periode istirahat adekuat sesuai jadual harian  klien.
Rasional  :
Periode istirahat memberikan tubuh interval  untuk penggunaan energi yang rendah.
e.       Gangguan pemenuhan kebutuhan tidur berhubungan dengan dyspnoe  noktural.
Tujuan  :
Kebutuhan tidur klien  terpenuhi dalam 2  x 24 jam.
Kriteria Hasil  :
Klien dapat tidur dengan tenang.
Klien dapat tidur dengan nyenyak dengan jumlah jam tidur  7  - 8 jam  per hari.
Klien terlihat segar.
Rencana  Tindakan  :
1)      Ciptakan lingkungan yang tenang  dan batasi jumlah pengunjung  terutama saat jam tidur klien.
Rasional  :
Agar klien dapat tidur dengan baik  dan tidak mengganggu tidur klien.
2)      Atur posisi klien pada saat akan tidur senyaman mungkin.
Rasional  ;
Dengan  posisi yang mengenakkan, klien dapat lebih rileks  dan tidak gelisah.
3)      Buat jadual tindakan sedemikian  rupa   agar tidak mengganggu  tidur klien.
Rasional  :
Agar tidak mengganggu tidur klien.
4)      Bila tindakan dilakukan saat klien sedang tidur, lakukanlah dengan hati – hati .
Rasional  :
Agar klien tidak  terbangun.
f.        Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan :
Rasa cemas teratasi dalam 30 menit.
Kriteria hasil :
Klien tenang .
 Pengetahuan  klien  tentang penyakitnya meningkat .
Klien kooperatif dengan program perawatan dan pengobatan.
Rencana tindakan :
1)      Kaji rasa cemas klien.
Rasional  :
Untuk mengetahui sejauhmana cemas yang dialami klien dan pengaruhnya  terhadap kondisi mental.
2)      Bina hubungan yang baik dengan klien.
Rasional  :
Agar timbul rasa saling percaya dan hubungan yang harmonis.
3)      Beri kesempatan klien bertanya dan mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional  :
Pengungkapan perasaan memungkinkan untuk saling berbagi dan memberikan kesempatan  memperbaiki konsep  yang tidak benar.
4)      Beri penjelasan pada klien  dan keluarganya  tentang keadaan penyakit  dan prosedur yang akan dilakukan.
Rasional  :
Penjelasan yang baik dan tepat akan memberikan pemahaman yang baik pula dan dapat mengurangi kecemasan.
5)      Beri penguatan dan perilaku koping positif  kepada klien dan keluarganya.
Rasional  :
 Koping positif menimbulkan kepercayaan  akan perubahan keadaan  penyakitnya  ke arah kesembuhan.
g.       Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan aliran darah ginjal sekunder terhadap gagal jantung kanan.
Tujuan  :
Tidak terjadi kelebihan cairan dalam tubuh.
Kriteria Hasil  :
Edema tidak terjadi.
Tidak terjadi distensi vena.
Terjadi keseimbangan antara intake dan output   cairan.
Rencana  Tindakan  :
1)      Observasi tanda – tanda kelebihan cairan.
Rasional  :
Untuk  mendeteksi secara dini adanya kelebihan cairan dalam tubuh .
2)      Berikan klien makanan sesuai dengan dietnya yaitu rendah garam.
Rasional  :
Dengan pemberian makan yang sesuai dengan diet maka dapat dihindari retensi cairan  dalam tubuh.
3)      Catat  intake dan output cairan setiap   hari .
Rasional  :
Untuk mengukur dan mengetahui keseimbangan cairan yang masuk dan keluar.
4)      Timbang berat badan setiap hari.
Rasional   :
Untuk mengetahui perubahan berat badan berhubungan dengan kemungkinan timbulnya oedema.
5)      Jika klien dipasang infus, awasi dengan ketat tetesan infus   sesuai dengan program pengobatan.
Rasional  :
Pemantauan dalam terapi infus secara ketat dapat menghindari  kelebihan cairan yang  masuk.
(Hudak, Carolyn M, et al, Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik, 2000; Carpenito, Lynda Juall, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, 1999; Tucker, Susan M, et al, Standar Perawatan Pasien, 1998)
4.      Implementasi
Tahap keempat dari proses asuhan keperawatan adalah implementasi.  Implementasi keperawatan merupakan aplikasi dari perencanaan yang telah disusun sesuai dengan masalah klien guna mencegah, memelihara, mengatasi, serta meningkatkan derajat kesehatan klien. Implementasi dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psilologis dilindungi serta dilakukan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan.
5.      Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan fase akhir dari proses keperawatan  terhadap asuhan keperawatan yang diberikan. Evaluasi adalah suatu sistem untuk menilai keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan  dengan mengukur tercapai  atau tidaknya  tujuan yang diharapkan. Hal – hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan dan kualitas data, teratasi atau tidaknya masalah klien serta pencapaian tujuan dan juga ketepatan dalam melakukan implementasi keperawatan.
Evaluasi ada dua yaitu evaluasi proses (formatif) berupa respon klien segera setelah dilakukan tindakan keperawatan yang didokumentasikan kedalam catatan keperawatan. Evaluasi yang kedua adalah evaluasi hasil (sumatif) yang merupakan evaluasi tahap akhir untuk menilai apakah tujuan perawatan tercapai atau tidak, yang didokumentasikan dalam catatan perkembangan berupa respon subjektif  dan objektif, analisa perawat tentang masalah keperawatan yang terjadi serta yang terakhir perencanaan selanjutnya.
(Carpenito, Lynda Juall, Diagnosis Keperawatan : Aplikasi pada Praktek Klinis, 1998; Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, 1999)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar