Kamis, 13 Januari 2011

Asuhan Keperawatan Efusi Pleura


A.     PENGERTIAN
Pada sub bab bagian ini penulis ingin mengemukakan beberapa pengertian tentang efusi pleura. Menurut Bambang Kisworo, Efusi Pleura adalah penimbunan cairan di dalam rongga pleura akibat transudasi teksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Efusi pleura bahan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit. Pendapat lain tentang efusi pleura menurut Brunner dan Suddarth adalah penumpukan cairan di dalam ruang Pleura adalah proses penyakit primer yang jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain, efusi dapat berupa  cairan jernih yang mungkin merupakan transudat, eksudat atau dapat berupa daerah atau pus.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa efusi pleura adalah penumpukan cairan yang berlebihan di dalam rongga pleura untuk mengurangi volume total yang bersih imlasi dan untuk memperbaiki pertukaran pernapasan.

B.     PATO FISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura  dalam keadaan normal cairan pleura di bentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah hariler Filtarasi ini, terjadi karena perbedaan tekanan Osmotik Plasma dan jaringan interstiisial submesotehial, kemudian melalui sel methehial masuk kek dalamrongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila proses radang oleh human biogerih akan terbentuk pus/nanah. Sehingga terjadi empiema / plotoraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks.
Proses terjadinya prenmotoraht karena pecahnya alneoli dekat pleura peroetalis sehingga udara akan masuk ke dalam rongga pleura. Proses ini sering di sebabkan oleh trauma dada atau alveoli pada daerah tersebut yang kurang elastis sehingga lagi seperti pada pasien empisema paru.
Efusi cairan dapat berbentuk transidat. Terjadinya karena penyakit lain bukan primer paru seperti gagal jantung hongestif, hirosis hati, sindrom nefrotik, dialisis peritoneum, hipoalbumi remia oleh berbagai keadaan perihardits honstrihtiva, heganalan, hipoal bumiremia, atelektasis paru dan prenmotoraks.
Efusi eksidat terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas hapieleer pembuluh darah pleura menirahat sehingga sel mesotchial berubaha menjadi bulat / kubiodal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah karena mikobakterium tuberhulosis dan dikenal sebagai pleuritis ekhdativa tuberhnlosa. Sebab lain seperti para prenmonia parasit camuba, paragonimilsis, ehinoholtus). Jamur, pnemonia atipik (virus, mikoplasma, fever, legiondla) keganasan paru, protek imunologik seperti plenritis inpus, pleuritis ramatoid, sarhoidosis, radang sebab lain seperti pankreatitis adbestosis plenritis uremia dan akibat radiasi.

C.     PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada klien efusi pleura terdiri dari penatalaksanaan medis / farma koterapi dan penatalaksanaan keperawatan.
1.      Penatalaksanaa medis / Farmakoterapi menurut Brunner dan sud darth.
Tujuannya adalah untuk mengurangi volume total yang bersirkulasi dan untuk memperbaiki pertukaran pernapasan. Untuk mengurangi volume total yang besirkulasi dapat di berikan pengobatan sebagai berikut :
a.       Morfin IV dalam dosis kecil untuk mengurangi ansietas dan dispnea, merupakan kontraindikasi pada cedera vaskular serebral, penyakit pulmorial kronis, atau sosok kardiogenik, siapkan selalu nalahson hidroklosida (Narcan) untuk depresi pernapasan luas.
b.      Diuretik : Furosemid (Clasix) IV untuk membuat efek diuretik cepat.
c.       Digitalis : untuk memperbaiki kekuatan kontraksi
Jantung : diberikan dengan kewaspadaan tinggi
Pada pasien dengan MI akut.
d.      Aminofilin : untuk mengi dan bronkospasure, driptu kontiun dalam dosis sesuai berat badan.

2.      Pentalaksanaan keperawatan
a.       Baringkan pasien tegak, dengan tungkai dan kaki di bawah, lebih baik bila kaki tersuntai di samping tempat tidak, untuk membantu arus balik vena ke Jantung.
b.      yakinkan pasien, gunakan sentuhan untuk memberikan kesan realitas yang konkret.
c.       Maksimalkan waktu kegiatan di tempat tidur.
d.      Berikan inforamsi yang sering, sederhana, jelas tentang apa yang s edang dilakukan untuk mengatasi kondisi dan apa makna respons terahdap pengobatan.

Tujuan penatalaksanaan medis pada klien dengan efusi pleura menurut Brunner dan suddarth (2002) adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan dan untuk menghilangkan ketidak nyaman serta dispnea. Pengobatan spesifik di arahkan pada penyebab yang merdasari.
1.      Torasentesis di lakukan untuk membuang cairan mengumpulkan spesimen untuk analisis dan menghilangkan dispnea.
2.      Sedang dada dan drainase water- seal mungkin di akibat torasentesis berulang).
3.      obat dimasukkan kedalam ruang pleural untuk mengobliterasi ruang pleura dan mencegah penumpukan cairan lebih lanjut.
4.      Modalistas pengobatan lainnya. Radiasi dinding dada, oterasi, pleurketomi, dan terapi diuretik keberadaan cairan di kuatkan dengan rontgen dada, ultratound, pemeriksaan fisik dan torahosentesi. Cairan pleura dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan guam, basil tahan asama, analisis sitologi, untuk sel-sel malingnan, dan PH Biopsi pleura mungkin juga dilakukan.

D.    PENGKAJIAN
Pengkajian menurut Brunner dan suddarth (2002) meliputi pemeriksaan fisik seperti napas dangkal, bunyi napas menurut, dada terasa berat dan nyeri ekspansi dada asimetris BB menurut, Bath ada sputum darah, demam sub Febros, demam menggigil, asates pada cirrhosis, diaporesis, pemeriksaan penunjang seprti foto dada, thoraco sintesis, sitologi cairan.

E.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Analisa dapat diungkapan dari adanya diagnosa keperawatan yang meliputi :
1.      Inefektif bersihan jalan napas b.d ekspansi paru berkurang.
2.      Gangguan volume cairan berkurang b.d dia poresis.
3.      Keterbatasan aktivitas b.d dyspenia dan fatiq

F.      PERENCANAAN
1)      Inefektif  bersihan jalan nafas b.d. ekspansi paru berkurang
Tujuan                    :     jalan napas paten / adekuat
Intervensi                :    
·        Beri O2 sesuai program
·        Berikan posisi tidur yang nyaman
·        Monitor TTV
·        Ajarkan batuk efektif
·        Ajarkan tahan dada bila batuk
2)      Gangguan volume cairan kurang b.d diaporesis
Tujuan                    :     Mempertahankan keseimbangan cairan tubuh
Intervensi                :    
·        TTV tiap 6 jam
·        Kompres dengan air hangat
·        Catat intake output
·        Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik
3)      Keterbatasan aktifitas b.d dyspnea dan fatiq
Tujuan                    :     klien memperoleh energi
Intervensi                :    
·        Kaji pola aktivitas
·        Batasi aktivitas
·        Bantu mengatasi kelemahan
·        Jadwalkan istirahat
·        Konsultasi Fisioterapi

G.    PELAKSANAAN
Pelaskasanaan merupakan tindakan mandiri berdasarkan ilmiah, masuk akal dalam melaksanakan yang bermanfaat bagi klien yang diantisipasi berhubungan diagnosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan permujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat berupa tindakan mandiri maupun tindakan holaborasi.
Dalam pelakasanaan tindakan langkah-langkah yan dilakukan adalah menghasi kembali keakdaan klien volidasi rencana keperawatan menetukan  kebutuhan dan bantuan yang diberikan serta menetapkan strategi tindakan yang akan dilakukan.
Selain itu juga dalam pelaskanaan tindakan semua tindakan yang dilakukan pada klien dan respon klien pada setiap tindakan keperawatan di dokumentasi dalam catatan keperawatan. Dalam pendokumentasian catatan keperawatan hal yang perlu di dokumentasikan adalah waktu tindakan  di lakukan, tindakan dan r espon klien di beri tanda tangan sebagai aspek legal dari dokumentasi yang dilakukan.

H.    EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai  berdasarkan standar/ kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan aspek penting dalam proses keperawatan, karena menghasilkan kesimpulan apakah intervensi keperawtan di akhir / ditinjau kembali atau dimodifikasi. Dalam evaluasii prinsip objektifitas, rehabilitas, dan voliditas dapat di pertahankan agar keputusan yang diambil tepat.
Evaluasi proses keperawatan ada 2 yaitu :
Evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi yang dilakukan segera setelah tindakan di lakukan dan di dokumentasikan pada  catatan keperawatan sedangkan evaluasi hasil dan evaluasi yang dilakuan untuk mengukur sejauh mana percapaian tujuan yang telah di tetapkan dan dilakukan pada akhir asuhan keperawatan.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar