Paytren

paytren8.com

Kamis, 23 Desember 2010

Asuhan Keperawatan DHF


A.    Pengertian
Menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2001), demam berdarah dengue  ialah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbo virus) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Menurut hidayat (2006), demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh karena virus dengue yang termasuk golongan arbo virus  melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.                  

Menurut Ngastiyah (2005), demam  berdarah dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbo virus, ditularkan melalui gigitan nyamuk yang ditandai oleh demam mendadak tanpa sebab disertai gejala lain seperti lemah dan terdapat manifestasi perdarahan.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh  virus dengue (arbo virus),  masuk kedalam  tubuh manusia  melalui gigitan  nyamuk Aedes Aegypti yang ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan manifestasi perdarahan.


B.     Patofisiologi
Menurut Hidayat (2006), Suriadi dan Rita Yuliani (2001), virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, dan tubuh berespon terhadap infeksi virus yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, mual, pembesaran kelenjar getah bening. Reaksi yang amat berbeda akan tampak bila sesorang mendapat infeksi berulang oleh tipe virus dengue namun  dengan serotipe yang  berbeda. Adapun tipe serotipe dengue tersebut yaitu DEN-1, DEN-2, DE N-3 dan DEN-4  infeksi oleh salah satu jenis serotipe  tersebut akan memberikan kekebalan seumur hidup, tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain.

Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh kemudian akan bereaksi dengan  anti bodi dan terbentuk kompleks antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktifasi sistem komplemen. Akibat aktifasi C3 da n C5, akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas pembuluh darah sehingga terjadi kebocoran plasma. Selain itu, akibat dari infeksi virus dengue, terjadi depresi sum-sum tulang yang mengakibatkan turunnya trombosit, hemoglobin, leukosit. Terjadinya trombositopenia merupakan faktor terjadinya perdarahan.

Adapun manifestasi dari perdarahan tersebut yaitu berupa petekhie, ekimosis, episteksis, perdarahan gusi sampai perdarahan yang hebat  berupa muntah darah akibat perdarahan lambung, melena dan juga hematuriamasif. Selain perdarahan juga terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi makin lemah, ujung-ujung jari, telinga dan hidung terasa dingin dan lembab. Denyut  nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg  atau kurang. Jika keadaan tersebut tidak teratasi dengan baik dapat menyebabkan anoksia jaringan, asidosis metabolik, syok hipovolemik Dengue Syok Syndrome (DSS) dan kematian.

Menurut WHO,  Demam berdarah dengue dikelompokkan menjadi 4 tingkatan sebagai  berikut :
1.      Derajat I :  demam disertai gejala tidak khas, hanya terdapat manifestsi perdarahan (uji turniquet positif).
2.      Derajat II : seperti derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan        diperdarahan lain.
3.      Derajat III : ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya  nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (kurang dari 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang dingin dan lembab, gelisah.
4.      Derajat IV : renjatan berat dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah yang      tidak dapat diukur.

C.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaan  menurut Ngastiyah (2005), Suriadi dan Rita Yuliani (2001)
1.      Penatalaksanaan medik
Pada dasarnya pengobatan pasien bemam berdarah dengue bersifat simtomatis. Adapun penatalaksanaan tersebut meliputi :
a.       Pemberian anti-piretik pada keadaan hiper pireksia 
b.      Pemberian luminal jika terjadi kejang-kejang  
c.       Pemberian cairan intravena
d.      Pemeriksaan hematokrit, hemo globin dan trombosit setiap hari
e.       Pemberian transfusi darah atau trombosit pada perdarahan gastro intestinal          yang hebat.
2.      Penatalaksanaan Keperawatan
a.       Tirah baring
b.      Diet makanan lunak
c.       Memberikan minum yang banyak, dianjurkan 1,5-2 liter dalam 24 jam
d.      Pemantauan tanda-tanda vital
e.       Pemantauan intake dan output cairan
f.       Pemantauan perdarahan

D.    Konsep Tumbuh Kembang, Bermain, Nutrisi dan Dampak Hospitalisasi pada anak yang berumur 3-6 tahun.
Dibawah ini akan diuraikan mengenai konsep tumbuh kembang, bermain, nutrisi dan dampak hospitalisasi pada anak yang berumur 3-6 tahun.

1.      Pertumbuhan.
Menurut Whalley dan Wong (2000), mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, hal ini merupakan suatu proses yang alamiah yang terjadi pada setiap individu. Sedangkan Marlow (1998) mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan. Pada anak usia 3-6 tahun pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata per tahunnya adalah 2 Kg, kelihatan kurus akan tetapi aktifitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh mencapai kematangan seperti berjalan, melompat, dan lain-lain.            Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75 sampai 7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2006).


2.      Perkembangan
Perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks yang melalui maturasi dan pembelajaran. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak diantaranya faktor herediter, faktor lingkungan, dan faktor internal. Perkembangan psikoseksual anak pada fase falik (3-6 tahun), genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin, seringkali anak merasa penasaran dengan pertanyaan yang diajukannya.              Dengan perbedaan ini anak sering meniru ibu atau bapaknya untuk memahami identitas gender (Freud). Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan. Proses eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan dan anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah yang terlihat sekali kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang tuanya              (Hidayat, 2006).

3.      Nutrisi
Nutrisi sangat penting untuk tumbuh dan berkembang. Anak membutuhkan zat gizi yang esensial mencakup protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air yang harus dikonsumsi secara seimbang, dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pada tahapan usianya. Kebutuhan cairan pada anak usia 3-6 tahun  yaitu 1600-1800cc/24 jam (Hidayat, 2006). Kebutuhan kalorinya adalah 85 kkal/kg BB. Pada masa prasekolah kemampuan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi sudah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan makanan seperti garpu, piring, sendok dan gelas semuanya harus dijelaskan pada anak atau diperkenalkan dan dilatih dalam penggunaannya, sehingga dapat mengikuti aturan yang ada. Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia ini sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah kebosanan, berikan susu dan makanan yang dianjurkan antara lain daging, sup, sayuran dan buah-buahan.

4.      Bermain
Bermain merupakan suatu aktifitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa. Pada usia 3-6 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreatifitas dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangakan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dalam mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong. Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda-benda sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat-alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting dan air.

5.      Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan suatu poroses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya sampai kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stres. Perawatan anak dirumah sakit memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakan amat, penuh kasih sayang, dan menanyakan, yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Perawatan dirumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya, anak merasa kehilangan kekuatan diri, malu, bersalah, atau takut.anak akan bereaksi agresif dengan marah dan berontak, tidak mau bekerjasama dengan perawat.

E.     Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada klien dengan DHF menurut Christantie (1995) adalah sebagai berikut :
1.      Data subyektif ; data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan yang dinyatakan  klien : menyatakan adanya lemah, panas atau demam, sakit kepala, mual, anoreksia, haus, sakit saat menelan, nyeri ulu hati, nyeri pada otot dan sendi.
2.      Data obyektif ; data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi klien. Pada klien didapt suhu badan tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan, mukosa mulut kering, perdarahan gusi, tampak bintik merah pada kulit (ptekhie), uji tornikuet positif, epistaksis, hematemesis, melena, nyeri tekan pada epigastrik. Pada palpasi terdapat pembesaran hati dan limpa, pada renjatan (derajat IV) terdapat nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin, gelisah, sianosis perifer, pernafasan dangkal.
3.      Pemeriksaan diagnostik
a.       Hb dan Ht meningkat
b.      Trombositopenia <100.00/uL
c.       Leukopenia (mungkin normal/leukositosis)
d.      Ig.6 positif
e.       Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hipouremia dan hiponatremia
f.       Ureum dan pH darah mungkin meningkat
g.      Analisa gas darah ; asidosis metabolik, PC02 <35-40mmHg dan HCO3 rendh.
h.      SGOT dan SGPT mungkin meningkat
i.        Rongent thorax : effusi pleura
j.        Serologi : uji HI (Hemoglutination Inhibitioan Test)
k.      USG : hepatomegali dan splenomegali

F.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang muncul pada klien dengan DHF menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2001), Hidayat (2006) :
1.      Hipertermia berhubungan dengan infeksi virus.
2.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan demam.
3.      Risiko terjadi komplikasi (syok hipovolemik atau perdarahan).
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak nafsu makan.
5.      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.
6.      Kurang pengetahuan pada orang tua mengenai proses penyakit.

G.    Perencanaan
Perencanaan pada klien dengan DHF menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2001),       Hidayat (2006), Ngastiah (2005) adalah sebagai berikut:

1.      Hipertermia berhubungan dengan infeksi virus.
Tujuan: Mempertahankan suhu tubuh normal
Kriteria hasil: Anak menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal
Rencana tindakan: a. Monitor peribahan suhu tubuh, nadi, pernapasan serta tekanan darah. b. Gunakan pakaian yang tipis untuk membantu penguapan. c. Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan ketentuan. d. Libatkan keluarga dan ajarilah cara melakukan kompres yang benar serta evaluasi perubahan suhu.

2.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan demam.
Tujuan: Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan.
Kriteria hasil: Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan cairan.
Rencana tindakan: a. Mengobservasi tanda-tanda vital paling sedikit tiap empat jam. b. Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis,         ubun-ubun cekung, produksi urine menurun. c. Mengobservasi dan mencatat intake             dan output. d. Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan             tubuh.  e. Memonitor nilai laboratorium: elektrolit darah, BJ urine, serum albumin.                   f. Mempertahankan intake dan output yang adekuat. g. Memonitor dan mencatat berat badan. h. Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam. i. Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (insensible water loss/IWL)

3.      Risiko terjadi komplikasi (syok hipovolemik atau perdarahan).
Tujuan: Mencegah terjadinya perdarahan.
Kriteria hasil: Peningkatan trombosit, tidak terjadi perdarahan terutama saluran cerna.
Rencana tindakan: a. Monitor penurunan jumlah trombosit, hemoglobin, dan hematokrit. b. Anjurkan anak untuk istirahat c. Gunakan sikat gig lunak, pelihara kebersihan mulut. d. Monitor tanda-tanda adanya perdarahan e. Apabila terjadi perdarahan, kolaborasi dalam pemberian obat dan transfusi. f. Berikan antibiotik sesuai dengan keperluan. g. Pertahankan kebutuhan cairan tubuh.

4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak nafsu makan.
Tujuan: kebutuhan nutrisi adekuat.
Kriteria hasil: Anak menunjukkan tanda-tanda nutrisi yang adekuat.
Rencana tindakan: a. Monitor adanya perubahan berat badan, mual, muntah.                   b. Berikan makanan yang mudah dicerna seperti bubur dan hidangkan dalam keadaan hangat. c. Berikan porsi makan sedikit tapi sering hingga terpenuhi jumlah asupan makanan dalam tubuh. d. Berikan obat antiemesis sesuai dengan program/ketentuan bila perlu.  e. Berikan alternatif nutrisi yang dapat meningkatkan kadar trombosit

5.      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak.
Tujuan: Support koping keluarga adaptif.
Kriteria hasil: keluarga menunjukkan koping yang adaptif.
Rencana tindakan: a. Mengkaji perasaan dan persepsi orang tuaterhadap situasi yang penuh stres. b. Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang-lebar dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga. c. Identifikasi koping yang biasa digiunakandan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan. d. Tanyakan kepada keluarga apa yang dapat dilakukan untuk membuat anak atau keluarga agar menjadi lebih baik, dan jika memungkinkan memberikan apa yang diminta oleh keluarga e. Memenuhi kebutuhan dasar anak : jika anak sangat tergantung dalam melakukan aktifitas sehari-hari, ijinkan hal ini terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama, kemandirian anak dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
6.      Kurang pengetahuan pada orang tua mengenai proses penyakit
Tujuan: Pengetahuan meningkat.
Kriteria hasil: Meningkatnya pengetahuan pada pasien atau keluarga tentang DBD
Rencana tindakan: Berikan penjelasan tentang penyakit DBD yang biasaya mulai dari demam mendadak dan anak menjadi lemah, mengeluh pusing atau muntah agar segera dibawa berobat ke pelayanan kesehatan/dokter tidak usah menunggu terlihatnya bintik-bintik merah pada kulit (mengenai bintik merah sebagai salah satu gejala DBD sudah banyak yang mengetahiu; karena itu sering para orang tua jika anaknya terlihat ada merah-merah pada kulitnya ketakutan menderita DBD. Padahal merah pada kulit tersebut dapat juga sebagai akibat anak telah beberapa hari tidak dimandikan). Penjelasan lain yang penting ialah jika anak yang sakit demam sebelum dibawa berobat supaya diberi banya minum. Untuk mencegah timbulnya muntah cara memberikan minum harus sedikit demi sedikit.

H.    Pelaksanaan
Pelaksanaan menurut Patricia A. Potter (2005) merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan yang telah disusun/ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal, dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh pasien itu sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama dengan anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat memilih intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada pasien. Berikut ini metode dan langkah persiapan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat : memahami rencana keperawatan yang telah ditentukan, menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan, menyiapkan lingkungan terapeutik, membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, memberikan asuhan keperawatan langsung, mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.
Pelaksanaan membutuhkan perawat untuk mengkaji kembali keadaan klien, menelaah, dan memodifikasi rencana keperawatan yang sudah ada, mengidentifikasi area dimana bantuan dibutuhkan untuk mengimplementasikan, mengkomunikasikan intervensi keperawatan. Pelaksanaan dari asuhan keperawatan juga membutuhkan pengetahuan tambahan ketrampilan dan personal. Setelah pelaksanaan tindakan, perawat menuliskan dalam catatan klien deskripsi singkat dari pengkajian keperawatan, prosedur spesifik dan respon klien terhadap asuhan keperawatan atau juga perawat bisa mendelegasikan implementasi pada tenaga kesehatan lain termasuk memastikan bahwa orang yang   didelegasikan   terampil   dalam tugas  dan  dapat menjelaskan tugas sesuai dengan standar keperawatan.

I.       Evaluasi
Menurut Patricia A. Potter (2005) evaluasi merupakan proses yang dilakukan untuk menilai pencapaian tujuan atau menilai respon klien terhadap tindakan keperawatan seberapa jauh tujuan keperawatan telah terpenuhi. Pada umumnya evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif. Dalam evalusi kuantitatif yang dinilai adalah kuatitas atau jumlah kegiatan keperawatan yang telah ditentukan sedangkan evaluasi kualitatif difokuskan pada masalah satu dari tiga dimensi striktur atau sumber, dimensi proses dan dimensi hasil tindakan yang dilakukan.

Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan adalah sebagai berikut :  mengumpilkan data keperawatan pasien, menafsirkan (menginterpretasikan) perkembangan pasien, membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku.

Asuhan Keperawatan Hernia


A.    Pengertian
Hernia adalah prostrusi dari organ melalui lubang defektif yang didapat atau congenital pada dinding rongga yang secara normal berisi organ (Engram, 1999).
Hernia Inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum,  disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat
congenital. (Betz, 2002)
Hernia adalah suatu penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui lubang congenital atau didapat (Junadi, dkk 1982).
Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus / lateralis, menyelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga perut melalui anulus inguinalis eksterna/medialis (Junadi, dkk 1982).
Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti peritoneum, lemak, usus, atau kandung kemih) memasuki defek tersebut sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal (Tambayong, 2000).
Hernia adalah keluarnya organ viseral intra abdomen melalui suatu defek yang diakibatkan oleh lemahnya otot penyokong atau karena meningkatnya tekanan intra abdomen.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hernia inguinalis adalah suatu penonjolan keluar sebagian atau seluruh organ dalam abdomen ke bagian kantong terbuka (canal inguinalis) yang disebabkan karena penutupan tuba yang tidak lengkap antara abdomen dan skrotum atau keluarnya organ viseral intra abdomen melalui suatu defek yang diakibatkan oleh lemahnya otot penyokong atau karena meningkatnya tekanan intra abdomen.

B.     Patofisiologi
Patofisiologi hernia inguinalis yang dijabarkan dari beberapa referensi, menurut Price (2006), Junadi dkk (1982), www.medicastore.com (2004) adalah sebagai berikut: Hernia kebanyakan diderita oleh orang-orang yang berusia lanjut karena pada usia rentan tersebut dinding otot yang telah melemah dan mengendur untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada tempatnya sehingga  mempercepat proses terjadinya hernia. Kegiatan fisik yang berlebihan juga diduga dapat menyebabkan hernia cepat berkembang seperti mengangkat barang-barang yang terlalu berat. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya hernia yaitu batuk kronik, penyakit paru kronik, obesitas dan bawaan  lahir (congenital). Hernia terjadi jika bagian dari organ perut (biasanya usus) menonjol melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada dinding otot yang tipis, yang menahan organ perut pada tempatnya.

Hernia terbagi menjadi 2 tipe yaitu:
1.      Hernia Indirek.
Sebagian usus keluar melalui duktus spermatika yang terletak sebelah lateral dari arteri epigastrikus dan inferior mengikuti canalis inguinalis. Dan berjalan miring dari lateral atas ke medial bawah ke dalam scrotum, ini biasanya disebabkan karena congenital. Hernia indirek terbagi menjadi:
a.       Hernia Inguinalis yaitu adanya tonjolan intostine melalui lipat paha.
b.      Hernia Skrotalis dimana tonjolan intostine masuk ke dalam kantong skrotum.

2.      Hernia Direk
Sebagian organ viseral melewati dinding abdomen pada daerah otot-otot  yang melemah. Hernia direk terbagi menjadi:
a.       Hernia Femoral yaitu tonjolan intostine melalui ring femoral turun  ke femoral kanan / kiri.
b.      Hernia umbilikal yaitu tonjolan intostine melalui ring umbilikal, sering terjadi pada anak-anak (kongenital) dan pada kehamilan.
c.       Hernia Incisional yaitu terjadi pada tempat insisi (operasi) karena tidak adekuatnya penyembuhan luka insisi infeksi luka.

Hernia diberi nama berdasarkan letak hernia tersebut, seperti diafragma, inguinal, umbilikal, femoral. Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi menjadi hernia bawaan dan hernia dapatan atau yang dikenal dengan hernia akuisita. Berdasarkan sifatnya hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk, dan apabila isi kantong tidak dapat direposisi lagi maka disebut dengan hernia ireponibel.
Etiologi dari hernia inguinalis dapat terjadi karena anomaly congenital atau karena sebab yang didapat, dan bisa terjadi akibat penutupan tuba (prosesus vaginalis) yang tidak lengkap antara abdomen dan skrotum (atau uterus pada anak perempuan), menyebabkan penurunan bagian intestine. Inkarserata terjadi ketika bagian desenden terperangkap kuat di dalam kantung hernia yang mengganggu aliran darah. Tonjolan tersebut akan membesar bila ada tekanan intra abdomen seperti pada saat hamil, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan, menangis, dan miksi yang mengejan misalnya pada prostate hipertrofi. Isi kantong hernia biasanya dapat dikurangi dengan memberi tekanan perlahan, biasanya dilakukan pemulihan melalui pembedahan (herniorafi).

Adapun tanda dan gejala yang sering timbul pada klien dengan hernia inguinalis antara lain  umumnya penderita mengatakan turun berok atau mengatakan adanya benjolan diselangkangan/kemaluan, biasanya hernia inguinalis menyebabkan pembengkakan diselangkangan dan skrotum atau daerah inguinalis tanpa rasa nyeri. Jika berdiri benjolan bias membesar dan jika berbaring benjolan akan mengecil karena isinya keluar dan masuk dibawah pengaruh gaya tarik bumi, selain itu dapat pula ditemukan gejala mual dan muntah bila telah ada komplikasi.

Komplikasi yang mungkin muncul pada klien dengan hernia antara lain : terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali, terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus, timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis, terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah dan obstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah & terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit, melainkan ususnya terputar. Dan bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, acidosis metabolik, abses.

C.     Penatalaksanaan
Menurut Betz (2002), Junadi dkk (1982) penatalaksanaan pada klien dengan hernia adalah sebagai berikut:
1.      Terapi Konservatif
a.       Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sementara itu pada hernia inguinalis pemakaian kotidak dianjurkan
b.      Hernioplastik endoskopik: merupakan pendekatan dengan penderita berbaring dalam posisi trendelenburg 40º digunakan tiga trokar yang pertama digaris tengah dekat umbilikus dan dua linenya di lateral, keuntungannya mobiditas ringan, penderita kurang merasa nyeri, dan keadaan umum kurang terganggu dibandingkan dengan operasi dari luar.

2.      Tindakan Pembedahan
Tujuannya adalah untuk mengembalikan (reposisi) terhadap benjolan henia tersebut. Tindakan bedah pada hernia disebut herniotomi yaitu dengan memotong kantung hernia lalu mengikatnya dan herniorafi dengan perbaikan defek dengan pemasangan jaring melalui operasi terbuka (laparoskopik). Pada elektif maka kanalis dibuka isi hernia dimasukkan kantong diikat dan dilakukan bassini plasty untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
Pada bedah darurat pada prinsipnya seperti bedah elektif cincin hernia langsung dicari dan dipotong, usus dilihat apakah vital atau tidak, bila vital dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomosis ”end to end”. Pada ireponibilis maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali, penderita istirahat baring dan dipuasakan, dilakukan tekanan yang kontinue pada benjolan misalnya dengan bantal pasir baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan lakukan secara berulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah elektif dikemudian hari.

3.      Penatalaksanaan Keperawatan
a.       Kaji tanda-tanda strangulasi
b.      Lakukan perawatan pasca operatif: hernia inguinalis memerlukan perbaikan secara bedah
c.       Tanggung jawab perawat untuk perawatan pasca operatif antara lain:
1)      Kaji luka infeksi: amati luka insisi terhadap adanya kemerahan atau drainase, pantau suhu.
2)      Pertahankan status hidrasi yang baik: beri cairan IV bila diprogramkan, pantau asupan dan keluaran cairan, tingkatkan diet.
3)      Tingkatkan rasa nyaman: berikan analgesik sesuai kebutuhan, pada klien yang menjalani hidrokelektomi gunakan kantung es dan penyokong untuk membantu meredakan nyeri dan pembengkakan sesuai indikasi.

D.    Pengkajian
Menurut Engram (1999),  Tucker (1992), Betz (2002) pengkajian pada klien dengan hernia adalah sebagai berikut:
1.      Data Subyektif
Sebelum Operasi: Adanya benjolan di selangkangan/kemaluan., nyeri di daerah benjolan, mual, muntah, kembung, konstipasi, tidak nafsu makan, bayi menangis terus, pada saat bayi menangis/mengejan dan batuk-­batuk kuat timbul benjolan.
Sesudah Operasi: Nyeri di daerah operasi, lemas, pusing, mual, kembung.

2.      Data Obyektif
Sebelum Operasi: Nyeri bila benjolan tersentuh, pucat, gelisah, spasme otot, demam, dehidrasi, terdengar bising usus pada benjolan.
Sesudah Operasi: Terdapat luka pada selangkangan, puasa, selaput mukosa mulut kering, anak/bayi rewel.

3.      Pemeriksaan penunjang
a.       Darah: Leukosit > 10.000 - 18.000 /mm3, serum elektrolit meningkat.
b.      X.ray, USG Abdomen.

E.     Diagnosa Keperawatan
Menurut Engram (1999), Tucker (1992), Betz (2002) diagnosa keperawatan pada klien dengan hernia adalah sebagai berikut:
1.      Sebelum operasi
Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien dengan hernia sebelum dilakukan tindakan operasi adalah sebagai berikut:
a.       Nyeri berhubungan dengan adanya benjolan pada daerah lipat paha.
b.      Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan
c.       Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah.
2.      Sesudah operasi
Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien dengan hernia setelah dilakukan tindakan operasi adalah sebagai berikut:
a.       Nyeri berhubungan dengan luka operasi.
b.      Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan.
c.       Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
d.      Risiko tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pada luka operasi.
e.       Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi.
f.       Potensial infeksi sekunder berhubungan dengan proses penyakit infeksi.

F.      Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan ditemukan, dilanjutkan dengan menyusun perencanaan untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas diagnosa keperawatan, penetapan tujuan dan kriteria hasil. Menurut Engram (1999), Tucker (1992), Betz (2002) perencanaan pada klien dengan hernia adalah sebagai berikut:

1.      Sebelum operasi
a.      Nyeri berhubungan dengan adanya benjolan pada selangkangan
Tujuan: Klien merasa nyaman
Kriteria Evaluasi: a. Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap. b. Klien dapat beradaptasi dengan nyerinya.
Intervensi : a. Observasi tanda-tanda vital. b. Observasi keluhan nyeri, lokasi, jenis dan intensitas nyeri. c. Jelaskan penyebab sakit dan cara menguranginya. d. Beri posisi senyaman mungkin buat klien. e. Ajarkan teknik-teknik relaksasi. f. Ciptakan lingkungan yang tenang. g. Beri obat analgetik sesuai instruksi dokter.

b.      Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan pembedahan
Tujuan: Rasa cemas berkurang
Kriteria Evaluasi: a. Klien kooperatif dalam asuhan keperawatan. b. Ekspresi wajah tenang.
Intervensi : a. Kaji tingkat kecemasan klien. b. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah, waktu puasa dan jam operasi. c. Beri kesempatan klien untuk bertanya. d. Jelaskan kepada klien tentang apa yang akan dilakukan di kamar operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan. e. Jelaskan kepada klien tentang keadaan setelah dioperasi.

c.       Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah.
Tujuan: Kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria Evaluasi: Turgor kulit elastis.
Intervensi : a. Observasi tanda-tanda vital. b. Puasakan makan dan minum. c. Timbang berat badan klien setiap hari. d. Pasang NGT dan infus sesuai program dokter. e. Hindarkan makanan dan minuman yang merangdang mual / muntah. f. Observasi jumlah dan isi muntah. g. Monitor dan catat cairan masuk dan keluar.

2.      Sesudah operasi
a.       Nyeri berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan: Klien merasa nyaman dan terjadi penyembuhan luka
Kriteria Evaluasi: a. Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang. b. Terjadi penyembuhan pada luka. c. Keadaan umum sedang kesadaran composmentis.  d. Klien tampak rileks dan nyaman.
Intervensi : a. Kaji tingkat rasa nyaman nyeri skala nyeri 0-10. b. Identifikasi  lokasi, lama, type pola nyeri. c. Anjurkan klien untuk melakukan tehnik relaksasi napas dalam. d. Gunakan ice bag untuk menurunkan pembengkakan. e. Kaji tanda-tanda  vital  tiap 8 jam.  f. Berikan analgesic sesuai program.

b.      Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah setelah pembedahan.
Tujuan: Klien dapat menunjukkan tanda-tanda rehidarsi dan mempertahankan hidrasi yang adekuat.
Kriteria Evaluasi: a. Mual dan muntah tidak ada. b. Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal yang ditandai dengan pengeluaran urine  sesuai usia, capillary refill kurang dari 2 detik, turgor kulit elastis,  membrane mukosa lembab. c. Intake dan output seimbang. d. Berat badan tidak menunjukkan penurunan.
Intervensi: a. Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam. b. Monitor pemberian infus. c. Beri minum dan makan secara bertahap. d. Monitor tanda-tanda dehidrasi. e. Monitor dan catat cairan masuk dan keluar. f. Timbang berat badan tiap hari. g. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya

c.       Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan: Kulit klien tetap utuh
Kriteria Evaluasi: a. Klien tidak menunjukan tanda-tanda kerusakan kulit yang ditandai dengan kulit utuh, tidak lecet dan tidak merah. b. Luka operasi bersih, kering, tidak ada bengkak, tidak ada perdarahan.
Intervensi: a. Observasi keadaan luka operasi dari tanda­ tanda peradangan: demam, merah, bengkak dan keluar cairan. b. lakukan perawatan luka dengan teknik septik dan aseptik. c. Jaga kebersihan sekitar luka operasi. d. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan. e. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi dan lingkungannya. f. ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi.

d.      Risiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pada luka operasi.
Tujuan: Tidak terjadi perubahan suhu tubuh (hypertermi).
Kriteria Evaluasi: a. Luka operasi bersih, kering, tidak bengkak. b. tidak ada perdarahan.  c. Suhu dalam batas normal (36-37°C)
Intervensi: a. Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam. b. Beri kompres hangat. c. Monitor pemberian infus. d. Rawat luka operasi dengan tehnik steril. e. Jaga kebersihan luka operasi. f. Monitor dan catat cairan masuk dan keluar.  g. Beri terapi antibiotik sesuai program medik.

e.       Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan: Pengetahuan klien dan keluarga bertambah.
Kriteria Evaluasi: a. Klien dan keluarga mengerti tentang perawatan luka operasi. b. Dapat memelihara kebersihan luka operasi dan perawatannya c. Dapat memahami kegunaan pemeriksaan medis lanjutan.
Intervensi: a. Ajarkan kepada klien dan keluarga cara merawat luka operasi dan menjaga kebersihannya. b. Diskusikan tentang keinginan keluarga  yang  ingin diketahuinya. c. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya. d. Jelaskan tentang perawatan dirumah, balutan jangan basah dan kotor. e. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/minum obat secara teratur di rumah, dan kontrol kembali ke dokter.

f.       Potensial infeksi sekunder berhubungan dengan proses penyakit infeksi.
Tujuan: Infeksi tidak terjadi
Kriteria Evaluasi: a. Tidak ada tanda-tanda infeksi (merah, bengkak, sakit, panas) pada luka insisi dan tempat pemasangan infus dan kateter. b. Perban dan plester tampak bersih, kesadaran komposmentis, keadaan umum sedang. c. TTV dalam batas normal TD: 110-120/70-80 mmHg, N: 80-84 x/mnt, Suhu: 36-37ºC, d. Hasil laboratorium leukosit dalam batas normal 4400-11300/ul
Intervensi : a. Catat atau kaji keadaan luka (jumlah, warna dan bau). b. Kaji  tanda-tanda vital tiap 8 jam. c. Anjurkan klien untuk menekan luka saat batuk. d. Mengganti balutan atau melakukan perawatan luka, perawatan infus dan kateter dengan teknik aseptik dan antiseptik menggunakan betadin 10%.e. Berikan antibiotik sesuai program.


G.    Pelaksanaan
Pelaksanaan menurut Potter (2005), merupakan tindakan mandiri berdasarkan ilmiah, masuk akal dalam melaksanakan yang bermanfaat bagi klien yang diantisipasi berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari  rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Tindakan keperawatan pada klien dapat berupa tindakan mandiri maupun tindakan kolaborasi.

Dalam pelaksanaan tindakan, langkah-langkah yang dilakukan adalah mengkaji kembali keadaan klien, validasi rencana keperawatan, menentukan kebutuhan dan bantuan yang diberikan serta menetapkan strategi tindakan yang dilakukan. Selain itu juga dalam pelaksanaan tindakan, semua tindakan yang dilakukan pada klien dan respon klien pada setiap tindakan keperawatan didokumentasikan dalam catatan keperawatan. Dalam pendokumentasian catatan keperawatan hal yang perlu didokumentasikan adalah waktu  tindakan dilakukan, tindakan dan respon klien serta diberi tanda tangan  sebagai aspek legal dari dokumentasi yang dilakukan.

H.    Evaluasi
Evaluasi menurut Hidayat (2007), merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai, berdasarkan standar atau kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan aspek penting didalam proses keperawatan, karena menghasilkan kesimpulan apakah intervensi keperawatan diakhiri atau ditinjau kembali atau dimodifikasi.

Dalam evaluasi prinsip obyektifitas, reabilitas dan validitas dapat dipertahankan agar keputusan yang diambil tepat. Evaluasi proses keperawatan ada dua arah yaitu evaluasi proses (evaluasi formatif) dan evaluasi hasil (evaluasi sumatif). Evaluasi proses adalah evaluasi yang dilakukan segera setelah tindakan dilakukan dan didokumentasikan pada catatan keperawatan. Sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan untuk mengukur sejauh mana pencapaian tujuan yang ditetapkan dan dilakukan pada akhir asuhan keperawatan.